Archive

Archive for October 22, 2011

Ranah 3 Warna

October 22, 2011 2 comments

Ku kira ’3 warna’ yang dimaksud adalah danau tiga warna yang ada di pegunungan Rinjani — pegunungan yang ingin sekali saya daki suatu waktu. Eh ternyata bukan.

Membaca novel ini cukup waktu. Novel setebal 469 hal ini cukup menyita waktu soreku di sini. Tanpa sengaja, saat saya mengelilingi sumbar, yang kebetulan ada salah satu lokasi pekerjaan di Maninjau. Saya teringat, kata Maninjau ini pernah saya baca di novel Negeri 5 Menara. Maninjau adalah tempat kelahiran si penulis novel tersebut. Dan kebetulan, Manijau adalah satu site –tepatnya Shelter– terakhir yang saya dan tim kunjungi untuk dilakukan instalasi perangkat telekomunikasi di salah satu PLTA di Maninjau.

“Maninjau, sebuah wilayah di Kabupaten Agam Sumatera barat. Lokasinya dikelilingi oleh perbukitan–mungkin ini yang dikenal dengan ‘bukit barisan’.”

Saya pun terbersit untuk mengunjungi toko buku di sekitar Padang. Segara saja di Rabu siang meluncur ke pusat kota diantar seorang teman dan drivernya ke lokasi. Saya pun terhanyut melihat-lihat buku-buku yang tertata rapi berdasarkan topik dari ekonomi sampai sastra. Segera saya meluncur ke gerai sastra. Tanpa pikir panjang, saya ambil satu novel karya A. Fuadi.

Seperti biasa sebagaimana tips dan trik salah seorang sahabat di Depok bahwa jika kamu mau baca buku lakukanlah hal-hal berikut:

1. Baca tulisan di balik cover buku belakang

2. Baca pengantar

3. Baca daftar isi

4. Baca/lakukan skimming atau baca dari bab 1 sampai terakhir jika topik buku itu benar-benar tidak kamu pahami.

5. Ambil kesimpulan dan tuliskanlah

Segera saja saya melakukan tips dan trik dari sahabatku ini. Hmm, ternyata buku ini benar-benar sambungan dari buku pertama: Negeri 5 Menara.

Tokoh utamanya adalah Alif, seorang alumni Pondok Madani di Ponorogo, Jawa Timur– salah satu kota yang pernah saya singgahi saat backpacker, juga beberapa tokoh lainnya di Negeri 5 Menara juga teman semasa SMP, Randai.

Selepas lulus dari Pondok Madani (PM), dia segera pulang ke kampung halamannya di Maninjau untuk bersiap-siap menyongsong impiannya untuk bisa kuliah di ITB, seperti Habibie, lalu belajar di Amerika.

Hambatan pertama muncul ketika dia baru menyadari bahwa syarat untuk masuk ITB adalah lulus UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri), sekarang namanya berubah — SPMB (2002) lalu SNMPTN (2009 kalo tidak salah). Untuk bisa mendaftar di UMPTN, syarat pertama adalah harus punya ijazah SMU/sederajat. Nah, sayangnya PM tidak mendapatkan ijazah setaraf SMU. Untuk itu ia kembali harus berjuang agar bisa mendapatkan ijazah SMU atau persamaan derajat. Ia pun kembali ditantang untuk merubah nasib, seorang santri yang mungkin di PM tidak diajarkan Matematika, fisika dsb. Kini ia mesti berjuang agar lulus dari ujian persamaan SMU/MA/SMK. Read more…

Categories: IT dan Telekomunikasi
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.