Novel Supernova: Partikel

Minggu lalu saya habiskan membaca novel karya Dewi Lestari si Supernova: Partikel. Kelanjutan dari seri supernova yang lain. Sembari menunggu kerjaan, dokumentasi dan closing project, dengan membaca beberapa buku ringan yang pantas dan layak dibaca. Partikel!

Dengan tokoh utama Zarah atau partikel dalam istilah fisika atom. Zarah adalah seorang anak yang tidak mengenyam pendidikan dasar formal seperti anak pada umumnya.

Ia dididik langsung oleh ayahnya yang seorang ahli biologi fungi yang sekaligus dosen di salah satu perguruan tinggi di Bogor. Ayahnya menolak untuk menyekolahkan anaknya di sekolah formal SD, SMP atau SMA sebab ia menganggap sekolah formal itu sudah rusak dan tidak mendidik. Sistem pendidikan yang jelek, juga kualitas pendidikannya yang amburadul.  Maka, sang ayah membiarkan dirinya menjadi seorang pembimbing dan guru bagi Zarah.

Ayah Zarah adalah seorang maniak fungi, semua yang ada di kepalanya adalah fungi. Maka tidak heran jika hampir kebanyakan yang diajarkannya adalah tentang fungi dan biologi. Bahkan agama dan pendidikan kewarganegaraan pun tak diajarkan kepada Zarah. Zarah pun hanya menurut saja.

Ketika ayah Zarah ‘menghilang’ maka ibunya memasukan Zarah ke sekolah. Umurnya kala itu adalah sekitar 13 tahun namun saat dites untuk masuk sekolah, hampir tak percaya kalau kemampuan Zarah layak disejajarkan dengan kemampuan anak SMU kelas tiga. Namun karena perimbangan umur, ia pun dinegosisasikan untuk masuk kelas satu SMA.

Perjumpaannya dengan Koso, lalu petualangannya di rimba Kalimantan yang mempertemukannya dengan para fotografer handal di sana maka hijrahlah ia ke London mengikuti ajakan para fotografer. Keliling ke berbagai belahan dunia meinkmati alam bersama fotografinya. Dengan tujuan utama sebenarnya adalah mencari keberadaan ayahnya yang menghilang tersebut.

Hmm,,, akankah ia menemukan sang ayah yang sangat ia dewa-dewakan?

Kalo saya sebagai pembaca menilai:  Dewi Lestari nampaknya sedang berusaha memberikan masukan kepada pembaca bahwa pendidikan bermutu pun bisa didapat dari pendidikan nonformal seperti yang diterima oleh Zarah dari ayahnya.

Lalu ada sedikit penegasan dan penelusuran mengenai kepercayaan terhadap UFO, terhadap kemampuan berkomunikasi dengan makhluk atau benda di luar dimensi kita melalui proses ‘halusinasi’ dengan perantara fungi yang sejak zaman dulu bertahun-tahun telah digunakan oleh orang-orang di kebudayaan Maya, Inca dan Aztec dan Afrika. Apa mungkin ini disebut klenik modern? atau apalah namanya yang sulit saya jangkau dengan kemampuan matematis saya. Atau saya saja yang berpikiran mekanistik Newtonian hehehe…:)

 

 

Advertisements