Kimiyaa As-sa’adah [alchemist of happiness]

 اي شئٌ انت؟

وَمن اين جئت الي هَذا المكان؟

ولاي شئ خلقت؟

وبأي شئ سعادتك؟

وبأي شئ سقا ئك؟

Siapakah Anda?

Dari mana anda berasal, dari mana anda bisa datang ke tempat [dunia] ini?

Lalu, dari apa Anda diciptakan?

Lalu, apa yang membuat Anda bahagia?

Lalu, Apa yang membuat anda sengsara [galau, sedih, sendu]?

Hmm,… pertanyaan filosofis! nampaknya saya sudah lama tak mendengar pertanyaan-pertanyaan yang begitu dalam.

Membaca pengantar karya Imam Al Ghazali: Kimiyaa as-sa’adah saja memang cukup mengerutkan dahi. Padahal ini adalah bukan dalam bahasa aslinya. Mungkin jika membaca karya beliau dalam bahasa Parsi akan sangat sulit memahaminya. Terlebih saya tak punya kemampuan mengenai bahasa Parsi tersebut. Karya beliau ini awalnya ditulis dalam bahasa Parsi, terdiri 2 jilid. Lalu diterjemahkan ke beberapa bahasa seperti arab dan inggris dsb. Sayangnya, terjemahan dalam bahasa arabnya masih belum semua bab 😦

Membaca karya ilmuan klasik memang sangat berat bagi saya yang kemampuan bahasanya minim apalagi sudah tak biasa membaca sumber-sumber pokok berbahasa arab. Tentu membutuhkan  waktu yang agak lama untuk mencerna dan memahaminya. Padahal, memahami karya ulama-ulama klasik itu perlu paham bahasa arab karena karya-karya mereka umumnya ditulis dalam bahasa arab. Bahasa arab menjadi mandatory. Memahami dan menjalani Islam [alquran, hadits dan syariatnya] tanpa memahami Bahasa Arab is nothing, begitu saat saya memotivasi seseorang.

Pertanyaan berikutnya adalah, apakah itu bahagia? apakah kebahagiaan itu? bertubi-tubi pertanyaan itu dilontarkan dengan tajam dan menyentil rasa kemanusiaan kita dan mempertanyakan mengapa kita berada di sini [baca:dunia]. Bahkan ini bisa menyentil keimanan. Pertanyaan dan pernyataan beliau makin menyentil tatkala beliau membuat kategori kebahagiaan, misalnya kebahagiaan “jusmani” yaitu kebahagian yang sifatnya badaniah seperti makan, minum, sex [bersetubuh], cinta pada lawan jenis yang cantik/ganteng, bahagia ketika gajian, bahagia ketika punya mobil atau kendaraan bagus, bahagia ketika mencapai puncak karier, bahagia ketika memiliki uang dan harta, dan seterusnya.

Dan kebahagiaan semacam itu [jusmani] adalah kebahagian TERENDAH yang dimiliki manusia. Kebahagiaan yang sama dengan kebahagiaan yang dimiliki hewan!

lalu kebahagiaan apa yang paling tinggi?

Bagi syetan, kebahagain adalah ketika mereka mampu membuat makar, berbuat dosa dan menggoda manusia menuju keburukan. Sebaliknya, kebahagian bagi malaikat yaitu ketika mereka mampu dekat dengan Tuhannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s