Wanita-wanita yang baik

“….Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik pula.” (annuur : 26)

Mungkin itulah kira-kira obat penenang dan introspeksiku, yang juga ternyata Ikal alami dalam cerita Padang Bulan: AH. Sebab doktrin itu telah mengalir deras sejak aku meyakini kebenaran kitab suci dan kebenaran Rasulullah SAW. Ya, memang wanita-wanita yang pantas, layak, baik juga akan ketemu dengan laki-laki yang pantas juga. Seperti halnya A Ling dan Zinar. Sabarlah, Kal!

Ups, tapi bagaimana dengan tafsir dari ayat di atas? pikiran kritisku mulai menyelinap. Bagaimana Ibnu Katsir memandang hal itu? Bagaimana Ibnu Taimiyah atau penafsiran Rasyid Ridho dan gurunya akan hal ayat di atas? tentu kita perlu membaca penafsiran-penafsiran para ulama tersebut supaya kita tidak salah persepsi.

Lalu, jika ayat itu “at thoyyibaatu” itu merujuk kepada person umum, maka akan benar pemahamamannya seperti di atas. Namun jika “at thoyyibaatu” itu merujuk pada person khusus (yang jelas diredaksinya terdapat ‘al’ yang menunjukan ism ma’rifat. Bukankah ini menunjukan kekhususan pada wanita tertentu yang telah dimaksud? Bukankah ‘at thoyyibaatu’ itu wanita seperti Khodijah? dan ‘attoyyibuuna’ itu adalah laki-laki seperti Nabi Muhammad?

Lalu, jika benar wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki baik, bukankah istrinya Firaun adalah wanita yang baik? sebaliknya Firaun begitu jauh dari Allah. Nabi Nuh itu adalah laki-laki yang baik namun mengapa istrinya enggan beriman kepada Allah? atau bisa kita lihat di sekeliling kita. Apakah ini sebuah ujian ? mungkin seperti itu cara Allah menguji Nabi Luth dan istrinya Firaun.

Tentu kita tak bisa membandingkan kita hat-to-hat dengan orang lain. Yang pasti, kita harus terus introspeksi diri. Terus memperbaiki diri agar kita bisa seperti Muhammad SAW, agar bisa  sebaik Ali RA. Mudah-mudahkan dengan terus memperbaiki diri, maka kita disayang Allah dan permohonan kita mendapat jodoh yang baik tersebut dikabul Allah. Namun jika tidak mendapat yang baik dalam pandangan kita, kita harus tawakkal dan bersabar. Mungkin ini ujian hidup. Jalani dengan ikhlas. Bahwa menjalani hidup dan kehidupan ini atas perintah dan kehendak Allah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s