Dokter Bedah

me: Dok, dari hasil usg, dimana posisi perempetan itu? usus sebelah mana?

dokter: ya, kalau mau lihat lebih jelas ya harus dibongkar. kalo di-usg  kan begitu hasilnya! yaudah, kalau keluarga ga setuju ya gpp. Saya ga tanggung jawab.

me: apa tak ada cara lain mengobati perempetan usus ini selain dibedah?

dokter: ya ga ada.

me: terima kasih dok. kami berunding dulu dengan keluarga.

scrub_nurse2

dengan nada kesel, penuh tekanan ini si dokter menjelaskan bahwa bedah adalah satu-satunya cara mengobati penyakit yang diderita si bungsu, my beloved sister!. Uhhh, ini yang paling saya sesali : berdiskusi dengan si dokter bedah. Padahal, saya sudah berjanji untuk tidak pernah menginjakkan kaki di rumah sakit apalagi mesti bertemu dengan DOKTER BEDAH. Makhluk ke 9 yang paling saya benci, adalah dokter bedah, kawan!

Si suster pun tak ketinggalan membantu pernyataan dan affirmasi terhadap analisis dokter bahwa BEDAH adalah satu-satunya cara menyelamatkan adikku. Bahkan ia sudah menyodorkan surat pernyataan.

Kubaca dan ku teliti dengan seksama isi surat perjanjian itu. Makin lama makin meragu melihat isi pernyataan tersebut makin tak yakin akan analisis dokter bedah brekele itu. Hmm, isinya kebanyakan merugikan pasien dan tentu saja memenangkan si dokter. Dalam hati kecil ku yakin bahwa bedah bukan cara terbaik mengurai masalah ini.

Aku temui saudara dan keluarga kami dan ternyata tanpa dikomandoi, mereka sudah menyepakati agar si dokter ‘leluasa membedah’ dan ngobok-ngobok isi perut si ade. Ah, ternyata saya kalah suara. Hanya satu-satunya kakakku dan aku sendiri yang masih ragu.  Sambil memandang mata adikku, dan bertanya: ‘kamu udah siap menerima kondisi demikian?”. Dia hanya menjawab dengan anggukan kecil.

“Yaudah, kalau itu sudah keputusan keluarga, saya ikut saja. Mudah-mudahan ini jalan terbaik.”, begitu jawabku sambil menghela nafas.

Tiba-tiba kakaku membisiki: “M**, berdoa saja sekuat mungkin. Memohon pada Allah agar diberi yang terbaik.” Aku segera mengimani apa yang diutarakannya, menuju musholla dan sholat sedang kakakku entah pergi kemana. Dia memang suka misterius. Hampir semalaman aku terus berdoa, berdzikir dan berdoa agar adikku diberi keselamatan. Agar kejadian 10 tahun lalu tidak terjadi kepada adikku, agar cukup si Mimih dan Mahaji saja yang jadi ‘korban’ pisau bedah. Pisau bedah si dokter bedah yang sama, rumah sakit yang sama. Ah, tak kan ku biarkan pisau itu kembali mengoyak keluarga kami. I hate doctor, I hate surgeon!

Aku berjanji kalau adikku sembuh tanpa harus dibedah, aku ingin bersedekah. Anggap saja uang buat bedah itu dikonversikan ke sedekah. Nazar ini ku mohonkah kepada Tuhan, merayu-Nya agar Ia memberikan solusi dan jika solusi Tuhan mujarab, maka tentu aku harus menunaikan nazar itu sebagai ‘balas jasa’ atau bahasa agamanya bersyukur.

Jam 3.30an pagi ku terbangun dan segera bergegas menuju ruang adikku, dan kulihat dia masih terjaga. I knew what she felt. Dia ga ingin seperti si mimih, ususnya diurai dan diobrak-abrik pisau bedah. Kulihat matanya berair dan melelehlah airmatanya. Ku peluk dengan sayang dan berusaha menguatkan jiwanya. “sabar ya!”

Aku pamit sebentar ke luar dan kulihat di ruang sebelah, kakakku sedang duduk khusuk  di atas sajadah, berdzikir dan melafalkan doa-doa yang mungkin sama permohonannya dengan yang ku mohon. Bibirnya komat-kamit, tangannya memutar-mutar tasbih. Ah entahlah, meski kami sering berbeda paham tentang tasbih. tapi biarlah dia lakukan apa yang dia yakini. Hingga adzan subuh, kulihat kakakku masih komat-kamit berdzikir. Adzan subuh selesai, dia bergegas ke mushola untuk sholat subuh berjamaah. Tak sedetikpun kakakku ini berhenti atau sekadar menguap. Ku tahu, memang beliau sangat getol urusan dzikir dan sangat kuat berlama-lama duduk di atas sajadah untuk berdzikir. Ya, satu orang kakakku ini memang beda. Dia ga mau sekolah sebagaimana kakakku yang lain. Dia meminta ibuku mengizinkannya pergi ke pesantren sejak lulus SMP, ga mau lanjut sekolah padahal lokasinya jauh di Kediri sana. Bertahun-tahun dia di sana meski dengan uang operasional yang sangat minim. tapi karena memang niatnya mau mesantren, tak ada yang bisa menghalangi keinginanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s