Engineer has no love, no life and no party [part 1]

Image

I am engineer, I have no love, no life and no party!

Begitulah kira-kira ungkapan seorang engineer yang saya kutip dari seorang teman di pesbuk. Ya, engineer. Kau tahu apa itu engineer, kawan? pernah dengar istilah engineering? atau tahukah jurusan yang ada di fakultas teknik misalnya mechanical engineering, electronics and electrical engineering, computer engineering, civil engineering, telecommunication engineering, mechatronics engineering, dst.

Istilah engineer ini merujuk kepada profesi teknis ke-insinyur-an, dunia engineering, insinyur dunia telekomunikasi, dunia IT, dunia elektronika, dunia per-sipil-an, dunia geologi dan tambang, dan hal terkait dengan teknik yang umumnya jenis profesi lapangan dan memang terjun ke lapangan.

Dan entah mengapa, saya pun terjun dalam dunia engineer. Padahal basic kuliah saya sangat berbeda, bahkan sangat dekat dengan dunia yang mengawang-awang: logika, analisis, prediksi, kalkulasi, komputasi dan probabilitas. Ya, itulah matematik, tempat dulu saya belajar. Di ‘Universitas Jatinangor’, Sumedang. Meski kampus dan rektoratnya saat itu berada di Dipatiukur Bandung. Alhamdulillah, wisuda sih di Dipatiukur, diakui juga seh hehehe..

Dulu selepas sekolah menengah, memang saya sempet berkali-kali mencoba ujian UMPTN/SPMB agar bisa masuk ke jurusan S1 Teknik Elektro atau Teknik Fisika. Apply juga di politeknik dan ambil jurusan elektro, telekomunikasi dan mekatronik dan LULUS. Sayangnya di politeknik ini saya ga ambil :(. Tahun kedua setelah lulus, saya ambil pilihan Teknik ELektro namun gagal juga. Lalu tahun ketiga saya mencoba SPMB lagi dan tetap memilih jurusan Teknik Elektro dan Teknik Fisika. Lagi-lagi gagal total, padahal nilai saya setelah dihitung-hitung itu lebih dari 75%. Ah meni ku keukeuh eta kudu masuk elektro.

Selepas kuliah di Jatinangor, saya kembali nyoba mau daftar S2 elektro. Eh ternyata ditolak karena background saya buka elektro atau teknik fisika atau fisika. Ya Alloh, lagi-lagi ditolak. Seorang teman yang sama-sama apply di Elektro akhirnya memilih jurusan Sistem Informasi. Alasan dia ditolak juga karena backgroundnya Mathematics, bukan elektro atau fisika instrumentasi atau teknik fisika. Ah, ini mungkin sudah takdir, celoteh temanku ini. Alhamdulillah temanku ini sudah lulus sekolah pasca dan sekarang nga-dosen-an di suatu perguruan tinggi di Bandung.

Selain apply ke S2 Elektro, saya apply PNS juga sebagai iseng-iseng. Mau tahu apa benar saya ga layak masuk Elektro karena background saya mathematics? lalu daftarlah PNS departemen Perdagangan. Ujian tulis, wawancara dan psikotes. Ah lulus ternyata. Ujian tulis penuh dengan matematika, fisika, kimia dst. Ah mirip SPMB. ups, yang ini tak usah ku ceritakanlah ya!

Suatau waktu, akhir Desember seorang kakak kelas di kampus menawari kerjaan di Jakarta, dengan title “engineer”!. “Omar!. Kau mau kerja di Jakarta. Di kantorku ada lowongan. Jadi ENGINEER? ku jawab saja dengan: “siap bang!”

Mungkin karena gagal maning dan gagal maning masuk engineering, nasib yang mengantarkan saya menjadi engineer. Dan dimulailah petualangan seorang engineer di Jakarta. Bekerja dari satu perusahaan ke perusahaan lain sembari terus belajar banyak hal: komputasi, teknisi, computer network, IT, Linux dst. Dan saat ini saya menikmati dunia Network Engineer. Dunia parakontel, para teknisi telekomunikasi, IT, internet service provider dan dunia ‘no-maden’.

So, engineer has own life..

Advertisements

2 thoughts on “Engineer has no love, no life and no party [part 1]”

  1. Hehe, kayak gue pengen jadi guru. Tapi itu dulu.. duluuuuu banget. Impian masa kecil yang terlupakan gitu. Pas lulus SMA tau-tau pengen jadi guru. Daftar SPMB di jur Bahasa Indonesia UNJ pilihan keduanya Kriminologi UI. Tapi kata si mamah, Kriminologi kan gak jelas. Dan karena gua anak yatim, anak pertama, punya tanggung jawab bantuin sekolah adek jadi yah gua memutuskan ambil jurusan yg jelas yaitu komunikasi. Tapi karena komunikasi waktu itu lagi tinggi bener nilainya, jadi ditukerlah UNJ jadi kedua. Eh, malah masupnya ke unpad. Tapi ujung2nya jadi guru (B. Indonesia) juga, hehe…

  2. ya begitulah Al, kadang harapan tak sesuai dengan kenyataan. Kadang harapan itu mesti dilewati dengan berbagai process yang mungkin menuntun kita pada harapan yang sesungguhnya. skenario Tuhan itu kadang terlalu anggun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s