Antrian no 43

Waktu terasa begitu melambat kalau lagi menunggu. Ah pasien ini begitu banyak, hingga mencapai 100 orang. Padahal saya masuk ke klinik sejak jam 3 sore, dan diabsen di urutan pertama tapi anehnya dikasih no urut 43. Ternyata baru nyadar, banyak orang yang sudah mengambil antrian sejak pagi atau memang para pasien tersebut sudah kehabisan waktu hingga dilanjutkan sore harinya.

Beberapa ibu-ibu membawa anak-anaknya yang terbatuk-batuk, beberapa diantaranya membawa suaminya atau sebaliknya sang suami mengantar sang istri. Ah, kalau begini gw merasa cemburu: gw sendirian nunggu (hehehe… nyengir, liat orang lain berpasangan). Bukan iri karena ga punya pasangan, tapi gw iri melihat orang lain begitu care sama pasangannya 🙂

Hampir 2 minggu sudah tak mengikuti kelas bahasa Prancis. Tentu banyak ketinggalan, terlebih hasil mid test kemarin sungguh sangat jelek. Seminggu ini juga terkapar di kosan sendiri, sama seperti masa di Jatinangor beberapa tahun lalu, harus sendiri ke klinik.

Awalnya temen menyarankan untuk masuk rumah sakit saja biar ketemu para perawat cantik nan ayu, kan pake asuransi dan bisa istirahat. Ambil saja Mitra Husada yang terdekat kosan. Tapi, karena gw keras kepala gw ogah menerima nasehat temen ini. Soalnya gw udah janji pada diri sendiri kalau ga akan menginjakkan kaki di rumah sakit dan tak akan membiarkan tubuh gw dimasuki infusan apalagi jadi objek para dokter dan para suster yang lagi belajar nancepin infus. Ah ngeri deh gw kalo liat itu kejadian si suster yang kesulitan nancepin jarum dan nyari urat yang tepat buat dimasuki infusan.

Jam 5 sore, nama gw blom juga dipanggil padahal badan sudah meriang sejak pagi tadi, kepala udah pusing nyut-nyutan dan batuk tak henti-henti. Ah ini pasti gara-gara gw kebanyakan begadang beberapa bulan ini. Terlebih saat finishing project. Gw dikejar-kejar waktu. Sampe-sampe ujian mid test bahasa Prancis di IFI (CCF) akhirnya jeblok.

Akhirnya giliran nomor gw dipanggil dan langsung masuk ke ruang si dokter. Ah, si dokter langsung berceramah bla …. bla….

“Ah kamu infeksi usus! Nanti dicek darahnya ya di Husada”.  seloroh dokter itu

gw jawab aja dengan datar, “ini udah biasa dok (sambil nyengir). Bukan masalah, ini mah gw kecapean.Tolong beri resep aja dok dan vitamin apa yang baik.”

Ya, gw sebenarnya udah tau betul gelagat badan gw kalo udah begini, pasti itu penyakitnya. Cuma gw ga tahu obat medisnya apa.

Yasudah, gw ikuti saja apa yang diperintahkan dokter. Si dokter, seperti umumnya dokter, cek dada, cek mulut dst lalu kasih resep.

Segera gw keluar dari ruangannya dan menunggu obat. Dan ternyata obatnya SADIS. 8 macam x @3hari x 3! ya apalah daya, ini gara-gara kesalahan telat makan dan over stress dan capek kerjaan!

#Jakarta, 11 Feb 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s