Yang Idealis belum tentu bener dan masuk surga, lalu yang tidak idealis?

Image

Judul itu saya ambil dari potongan diskusi di group whatsapp, sebuah komunitas engineer. Begini ceritanya:

Ada seoran teman sesama network engineer sedang implementasi IT infrastruktur di sebuat perusahaan oli dan gas milik salah satu negara eropa. Lalu dia bercerita panjang lebar terkait kegiatannya di lepas pantai, mulai dari safety shoes, hingga pemandangan lepas pantai. Di akhir cerita, ia curhat dan bilang kalo gaji satu minggu seorang staf di perusahaan oil & gas itu sama dengan 6 bulan gaji dia di perusahaannya.Ya, sontak saja beberapa orang menyuruhnya untuk apply ke perusahaan oil & gas tersebut. Sebagian lagi mengutarakan agar ia selalu bersyukur atas salary yang ia dapatkan hari ini.

Saya pun ikut menimpali dengan bahasa yang kurang lebih begini:

“apa kita tidak mengelus dada, kita digaji 6x lipat dibanding saat ini namun minyak negeri kita dimaling dan dialirkan ke Eropa atau Amerika atau Jepang? apakah kita tidak ikut andil mengalirkan minyak itu?

 

Apakah kita tidak menangis melihat pipa gas atau minyak berdiameter 1 meter itu dialirkan ke kapal tongkang lalu dibawa ke Eropa? bukankah kita punya hak atas minyak itu?lalu bagaimana dengan orang-orang sekitar Duri, Dumai, Balikpapan, Luwuk atau Papua. Bukankah mereka tidak banyak menikmati hasil buminya?

Tentu nada saya itu cukup mengusik dan sangat emosional. Di akhir komentar, saya hanya bilang this is only my two cents. Pilihannya balik lagi kepada pribadi masing-masing dan tujuan hidup masing-masing. Hidup itu pilihan.

Seorang kawan menimpali balik:

“gw kalo ada kesempatan masuk oil company vs masuk Cisco, gw seh pilih oil company. Mau kata ngalir ke US atau France seh bodo amat. Idealis itu ga menjamin lo hidup bener dan masuk surga. Soe Hok Gie idealis, apa dia termasuk orang yang masuk surga?

Image

Loh, orang idealis aja ga dijamin benar dan masuk surga, bagaimana dengan orang yang tidak idealis?? bukankah surga itu prerogatif Tuhan? Ah, lebih baik saya ga meneruskan diskusi itu dan menuliskannya saja di blog. kalimat terakhir itu tidak saya sampaikan di whatsap. Cukup di blog saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s