Wisuda Tahfidz: Sebuah Pelajaran

“bade ngiring ka wisudaan Ily*** moal? teteh mah bade angkatna tos jumatan wae meh teu macet di jalan.”

SMS itu tak dihiraukan, karena memang perut sedang ‘marah’ karena semalam diisi dengan sambel pedas bin lada 🙂

Meluncur ke daerah Puncak dan Cianjur, menyusul si teteh dan keluarganya yang sudah di sana sejak sore. Meski hujan dan kabut menyelimuti perjalanan, maju terus. Alhamdulillah, dengan bantuan dan petunjuk dari seorang teman, lokasinya mudah dicapai.

Minggu ini 18-19 Januari 2014, Ily*** diwisuda. Tentu wisuda yang satu ini bukan wisuda jengjang S1, S2 atau S lainnya. Ini wisuda bagi para penghafal Alquran. Alhamdulillah, ada generasi yang mau menghafalnya di tengah kapitalisme dan materialisme yang begitu masif. Si teteh dengan ikhlas melepas anaknya untuk mondok di pesantren tahfiz alquran sejak lulus sekolah dasar. Tentu karena dorongan ayahnya, si anak pun mau belajar di pesantren. Dan memang, anak yang ini memintanya untuk belajar di psesantren. 2 tahun lalu, si anak ini menyelesaikan hafalannya di juz ke-15. Dan tahun ini, 3o juz sudah diselesaikannya.

Sedari subuh, terdengar para peserta membaca surat Alfatihah, lalu Albaqoroh dan seterusnya disaksikan oleh guru dan orang tuanya. Terdengar sahut-menyahut bacaan dari berbagai penjuru masjid. Masing-masing dibagi ke dalam beberapa halaqoh. Tiap halaqoh terdiri dari peserta dan keluarga yang didamping oleh guru yang menyimak benar-tidaknya bacaan si peserta.

Si sayah dan si teteh hanya bisa menyimak [isma] dengan terkagum-kagum, bahkan mungkin bangga dan bersyukur kalau generasinya memiliki generasi yang hafal alquran. Berjam-jam peserta membacakan hafalannya, dan istirahat jika waktu sholat atau waktu makan saja. Acara pun berlangsung meriah dan diakhiri dengan sholat zhuhur dan makan siang bersama keluarga.

Selepas zhuhur, sang kyai memberikan sambutan terakhir dan berpesan agar anak-anak terus menjaga hafalannya. Kepada orang tua juga diharapkan agar si anak melanjutkan untuk belajar dan mempelajari alquran misalnya belajar sanad, atau tafsir alquran. Di sesi berikutnya ada sesi sharing pengalaman dari salah seorang kyai dalam menghafal alquran. Beliau mampu menghafal alquran dalam waktu 6 bulan. Amazing!

Bagaimana bisa beliau menghafal 30 juz hanya dalam waktu 6 bulan? ini luar biasa cerdasnya menurutku. Sayangnya, formula menghapal beliau tidak sempat saya simak, karena beberapa ponakan [si kecil] mengajakku jalan-jalan keliling pesantren dan jajan di warung seberang pondok.

Sungguh luar biasa, kapan ya saya bisa hafal minimal 5 juz saja. sepertinya mesti ada pendamping dulu biar kalo ada partner nanti bisa saling mengingatkan 🙂

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s