Idealisme vs kapitalisme: sebuah dilema

Akhir Januari atau awal Februari lalu, seorang teman mengajakku untuk bergabung dalam satu usaha jasa recruitment tenaga kerja lalu menyalurkannya ke sebuah perusahaan. Intinya menjadi penyalur/makelar tenaga kerja [buruh kasar]. Lalu akan ada fee dari rekrutmen tersebut. Tentu, gw ga langsung setuju. Namun gw coba cek dan ricek lalu ikuti prosesnya. Mulai dari rekrutmen, interview, briefing dan pemberangkatan.

Ketika gw coba resapi, semua prosesnya dan gw menemukan beberapa hal yang nampaknya menurut gw ga sesuai. Maka gw langsung sampaikan bahwa mestinya tidak begini. Sebaiknya begini, begono dan begini. teman gw pun melakukan beberapa saran tersebut dengan diawali diskusi panjang menyamakan persepsi, metode, rekonstruksi visi dan misi. Akhirnya karena gw mengajukan perbaikan mesti begini begono. Gw disuruh membuat semacam SOP. Dan mulai awal Maret ini ada banyak perbaikan meskipun ga semua masukan dan kritik gw diamini. Menurutnya, hal ini perlu proses.

Satu hal yang gw bisa ambil pelajaran adalah:

Gw menemukan banyak sekali kemiskinan yang sangat ril: kemiskinan materi, miskin ilmu [pendidikan], miskin segalanya, pengangguran dsb. Khususnya di wilayah pantura, kemiskinan [dengan definisi luas] telah menggerogoti masyarakat sekitarnya. Problem sosial!. Problem ini tidak hanya terjadi pada masyarakat yang berpendidikan rendah, namun juga terjadi pada lulusan perguruan tinggi [Sarjana]. Dulu di tahun 2008-2009an, gw dan temen gw buka bimbingan belajar dan privat maka berbondong-bondong ratusan orang lulusan perguruan tinggi melamar jadi pengajar dan interview. Tentu kami kewalahan, karena supply dan demand tidak seimbang. Supply pengajar begitu banyak, namun kebutuhan pengajar private maupun bimbel sangat sedikit. Akhirnya, temanku memutuskan untuk menerima semuanya yang memenuhi kualifikasi [bisa ngajar math, fisika, kimia, bahasa inggris]. Ketika ada siswa yang akan private, maka kami berikan peluang itu ke para pengajar secara bergiliran.

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang berpendidikan SD atau SMP? ini lebih mengenaskan lagi. Mencari buat makan saja susah. Hal ini entah karena peluangnya sedikit atau memang lingkungannya yang sulit berkembang atau mereka kurang bekerja keras atau karena kualitas pendidikannya? ah gw ga bisa menghakiminya.

Tentu hal ini tidak boleh dibiarkan, mesti dicarikan solusinya. Diam saja itu sama dengan membiarkan kemunkaran. Tentu, akan ada risiko. Tapi bukan berarti diam itu tanpa risiko, bukan?

Solusi itu yang sedang gw pikirkan dan tuliskan, lalu implementasikan. #lagi-nyari-ide

Lalu, kemana fungsi dan peran pemerintah pusat, dan daerah? bukankah ada anggaran pendidikan?

atau masyaraknya [personnya] yang tidak mau diberdayakan? tidak mau sekolah? tidak mau belajar? atau memang sistem di kita begitu kusut? lalu, apa peran dan kontribusi intelektual, akademisi, profesional???

 

#Jakarta, tengah malam, 16-03-2014

Advertisements