Menulis Proposal

Beberapa bulan ini saya disibukan dengan urusan pekerjaan sebagai Network Engineer seperti membuat file presentasi ke customer, membuat Low Level Design (LLD), Method of Prosedure (MOP) dan melakukan konfigurasi dan integrasi atau upgrade kapasitas backbone di salah satu ISP. Pekerjaannya sering di lakukan di malam hari bahkan harus pulang pergi ke beberapa daerah seperti Surabaya, Banjarmasin atau Palembang. Praktis, blog saya tidak diurus bahkan di hari libur Sabtu dan Minggu pun blog ini tidak sempat di-update. Karena saya harus melakukan dokumentasi dan membuat dokumen-dokumen seperti disebutkan di atas. Padahal menulis adalah salah satu cara saya menghilangkan stress dan pressure pekerjaan.Menulis pengalaman sehari-hari, menulis ide, menuangkan dan bahkan mencantumkan beberapa konfigurasi yang pernah saya lakukan di customer. Ini membuat saya cukup santai dan tidak stress.

the proposal

Di samping itu, kesibukan sedang melanda usaha kecil saya bersama teman sekampus. Cash flow yang mulai gonjang-ganjing, karyawan yang belum digaji atau bahkan cicilan bulanan yang belum dilunasi atau utang-utang yang belum dibayar ke pihak investor. Beberapa orang investor sudah ngamuk-ngamuk dan meminta investasinya dikembalikan segera. Ups, malah curcol.

Ok, stop curcolnya.

Sebenarnya saya sedang menggarap sebuah proposal yang menurut saya ini adalah proposal yang harus didahulukan dan diprioritaskan dibandingkan pekerjaan hari ini. Apa itu? hmmm, nanti kita utarakan di postingan lain. Apalagi setelah kejadian 06/06/2014. Dipanggil atasan dan customer lalu disidang bersama tim vendor lain yang terkait. Bahkan Bos sebelah [bukan atasan saya seh], meminta saya untuk membuat CV dan melamar di perusahaan lain meski dengan bahasa sindiran dan metaforis. Saya sama sekali tidak terkejut, karena ketika memutuskan untuk masuk dunia telecommunication, maka risiko ini sudah saya ketahui dan pernah juga dialami hingga dimaki-maki presiden direktur. Tentu ini tekanan yang cukup memberikan efek kepada diri saya untuk bersiap-siap menuju pada tujuan dan mimpi saya selanjutnya. Mungkin hal ini sudah jalan yang ditunjukan oleh Allah swt untuk menjalani seperti di atas.

Ya, saya mesti fokus pada usaha yang digarap bersama teman dan merealisasikan apa yang sudah saya buat dan impikan semasa kuliah dulu. Tinggal membeli lahan, merealisasikan konsep dan kurikulum, membangun gedung dan atau mengembangkan usaha lain selain di bidang IT. Di samping itu, fokus untuk menikah dan melanjutkan studi.

Ya, menikah adalah prioritas pertama. Selanjutnya melanjutkan studi. Melanjutkan studi di kampus Ganesha, sayangnya ada beberapa hal administratif yang masih belum memenuhi persyaratan. Rencananya tahun ini, namun ternyata tidak bisa 🙂

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s