Nasib Network Engineer

Apa yang kita akan bayangkan jika handphone atau smartphone kita tidak mendapatkan sinyal? atau tidak bisa mengakses google play atau app store yang disebabkan ISP (provider internet) kita mengalami gangguan? tentu kita bertanya-tanya ada apa dengan Ind***t? ada apa dengan tel*****l?

telco engineer

Bagi kita seorang user, memiliki 2 handphone itu sudah umum dengan berbeda provider. Misalnya satu SIM card menggunakan provider A, satu SIM card menggunakan provider B. Hal ini bisa disebut redundancy. Namun ada juga yang menggunakan satu provider untuk 2 SIM card. Hal ini bisa terjadi karena kita merasa aman dan nyaman dengan fasilitas yang diberikan oleh si provider tadi. Bisa karena aspek ekonomi, atau memang karena sudah terlanjur ‘cinta’ dengan provider itu, atau memang ada juga yang karena nomor SIM card yang kita miliki sudah tersebar ke semua relasi dan teman-teman kita. Alhasil kita enggan menggantinya dengan provider lain.

OK, balik ke paragraf pertama. Apa yang sebenarnya terjadi jika provider kita menggalami gangguan. Inilah ‘peran’ seorang network engineer. Mari kita bahasakan ‘peran’ ini sebagai peran baik dan kurang baik.

Masih ingat kasus April 3, 2014? ah masa lupa đŸ™‚ saya tidak ingin nyebut merek. Tentu bagi user biasa (pengguna internet) atau smartphone biasa akan merasa biasa-biasa saja namun bagi pelanggan corporate maka sangat terkena dampaknya. Minimal tidak bisa nelpon atau tidak mendapatkan akses Internet. Simple-nya, salah satu ISP mengalamin traffic flooding di jaringan backbone-nya yang mengakibatkan Internet yang melalui ISP tersebut down beberapa jam.  ‘Down’ yang saya maksud adalah mengalami gangguan. Gangguan dimaksud bisa jadi seperti akses internet lambat, tidak bisa nelpon ke nomor lain, atau hanya bisa menerima telpon saja, atau bahkan tidak mendapatkan sinyal sama sekali meskipun di sekitar kita berjejer tower-tower BTS.

Konon, kejadian di atas adalah disebabkan karena human error. Human error ini terjadi pada saat melakukan konfigurasi routing BGP yang salam meng-import/export suatu policy yang menyebabkan paket dan traffic dari luar (internet) memasuki network ISP tersebut dengan bebas dan memenuhi kapasitas yang dimiliki oleh backbone mereka. Alhasil, backbonenya mabok.

Human error yang saya maksud adalah network engineer melakukan kesalahan konfigurasi. Tentu kesalahan konfigurasi tersebut pernah dialami oleh semua engineer baik kesalahan dengan skala kecil maupun besar seperti kasus di atas. Saya sebagai engineer pun pernah mengalami kesalahan itu, melakukan konfigurasi yang salah. Kenapa bisa salah? ya manusiawi. Bisa karena kita sudah ngantuk, grogi, presure tinggi karena waktu yang terbatas. Atau hal lainnya seperti sistem monitoring antar engineer, antar Team Leader dan field engineer. Ini bukan pembelaan, tapi ini fakta yang sering saya temui di lapangan. Ya percaya atau tidak. Itulah risikonya jadi engineer.

Lebih parah lagi adalah ketika sudah dipanggil dan disidang oleh si ISP. Kita diinterogasi dan diminta menjelaskan kronologis kenjadian dari awal hingga akhir. Jika hasil investigasi tersebut menimbulkan kerugian yang besar, maka penalty atau denda akan siap menghampiri engineer dan vendor tempat si engineer bekerja. Minimal, si engineer akan segera diminta resign dan mencari pekerjaan lain.

Tentu  jika dibandingkan dengan risiko yang dihadapi oleh engineer maka hal ini tidak sebanding dengan penghasilan engineer tersebut, đŸ™‚ lagi-lagi masalah uang.

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s