Usia Thirty Something

Saat usia kita SMA, kita dihadapkan pada masa-masa sekolah, bermain dan berorganisasi atau mungkin merasakan persahabatan yang sangat kental. Lalu menjelang Ujian Nasional (UN), dulu disebut Ebtanas, kita disibukkan dengan belajar dan persiapan kuliah atau kerja. Mau kemana setelah SMA? Lanjut kuliah atau bekerja dan mencari uang.
Ketika kita memutuskan lanjut kuliah, kita sering dihadapkan pilihan-pilihan. Misalnya, mau ambil jurusan apa? Teknik atau non-teknik? Kuliahnya mau di universitas mana ?dst.
Hal itu berlanjut ketika kita akan lulus dan pasca wisuda sarjana. Mau lanjut S2 atau bekerja dan atau berwirausaha. Itu pilihan yang selalu menghampiri kita.
Bagi yang memiliki dana dan atau akses, tentu pilihan itu akan selalu ada. Sebaliknya, bagi mereka yang tidak memiliki dana atau akses yang cukup, maka mungkin pilihannya adalah putus sekolah dan lalu mencari uang.
Nah, selepas kuliah pun demikian. Akan ada pilihan-pilihan yang harus kita ambil. Pilihannya semakin realistis dan bahkan pragmatis. Bekerja adalah pilihan yang umumnya diambil oleh para alumni kuliahan. Berwirausaha umumnya menjadi pilihan bagi sebagian kecil orang.
Lalu pilihan berikutnya adalah menikah dan seterusnya. Apalagi konstruksi agama, budaya dan sosial kita mengajarkan untuk menikah. Ya, memang menikah itu adalah pilihan dan saya yakin, menikah itu bukan sekadar pilihan namun suatu kebutuhan ummat manusia.
Di usia 30an, kadang pilihan dan kesempatan menikah itu makin kecil. Apalagi bagi sebagian kita yang disibukkan dengan pekerjaan dan karir. Day to day bergelut dengan pekerjaan. Tentu hal ini tidak akan terasa, tahu tahu usia kita sudah tua. Kondisi tubuh dan kesehatan mulai menurun. Rambut mulai beruban, fisik sudah tidak lagi prima, baru lari 5KM saja badan sudah terasa remuk dan sebagainya.
Lalu, apa sebenarnya yang kita cari dalam hidup?Apakah karir yang kita cari? Uang? Jabatan? Tentu yang kita cari adalah kebahagian, bukan?
Menurut saya, kebahagian itu ada saat kita menjalani dan mengimplementasikan ajaran Allah swt, dan menikah adalah ajaran dan syariat-Nya. Menikah adalah sarana menjadi bahagia.
Ini hanya pernyataan yang sangat retoris. Hanya saya, anda dan semua yang mengalaminya yang akan menjawabnya.


Jakarta, 30 Juni 2014.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s