Darah Muda di 17 Agustus-an

sepakbolaSetiap Agustus, di kampung saya selalu diadakan pertandingan sepak bola yang diikuti oleh remaja hingga remako (remaja kolot, red.). Pertandingan sepak bola ini biasa diadakan di sore hari sekitar jam 3 hingga jam 5.30. Di awal tahun 200o-an, pertandingan itu dilakukan sebanya satu sesi per hari dengan waktu standar 2×45 menit. Namun semenjak 3-5 tahun terakhir ini pertandingan diadakan sebanyak dua sesi dan waktunya juga menjadi lebih sedikit yaitu 2×30 menit.

 

Setiap tahun, hanya pertandingan sepak bola saj ayang diminati banyak penonton. Pertandingan yang lain seperti bulu tangkis atau bola voly pernah dipertandingkan namun peminat dan penontonnya tidak banyak. Alhasil, kedua jenis olah raga ini tidak dipertandingkan lagi. Pertandingan hanya dilakukan oleh segelintir orang yang memang berminat dan karena hobi. Namun, sepak bola memang menjadi olah raga yang merakyat dan sangat diminati oleh banyak orang.

Di tahun 2000-an, setiap RW atau dusun mengirimkan satu tim, misalnya Dusun Manis mengirimkan tim dengan nama AREMA MANIS, dan dusun yang lain mengirimkan satu tim juga dengan nama yang unik, namun sayangnya saya agak lupa nama-nama timnya. Di 5 tahun terakhir, setiiap dusun bebas mengirimkan berapa banyak jumlahnya yang penting adalah warga desa. Bahkan timnya bisa terdiri dari lintas dusun/RW.

Tim-tim baru dengan nama baru dan terdiri dari anak muda misalnya membentuk satu tim dengan nama Family FC. Lalu, ada tim Urug FC, Cipaku FC, Brownies FC, Ganas FC, Dadali FC dan Arema Manis. Masing-masing tim mendaftarkan diri ke panitia dan siap bertanding dengan damai, sportif dan akan mengikuti peraturan yang disepakati, siap menang dan siap kalah.

Di Agustus 2014 ini, kebetulan berdekatan dengan Hari Raya Idul Fitri maka hampir semua pecinta sepak bola berkumpul di pinggir lapangan ukuran 90×40 m –Lapangan yang didirikan di tahun 1986 atas prakarsa ABRI dalam program ABRI masuk desa. Sistem pertandingan adalah sistem poin. Menang berarti akan mendapat poin 3, kalah 0 dan seri akan mendapat nilai 1. Beberapa tim telah bertanding dan menghasilkan poin bahkan ada yang babak belur 7-0 tanpa balas. Family FC dan Brownies FC memimpin perolehan score dan diprediksi akan bertemu di partai pamungkas.

Di partai semi final, Brownies FC ditantang Urug FC. Pertandingan baru berjalan setengah pertandingan salah satu pemain Urug FC melakukan sentuhan tangan dan mengenai badan pemain Brownies FC dan pemain Brownies tidak terima diperlakukan seperti itu lalu memukul pemain Urug FC. Terjadilah keributan yang memprovokasi pemain lainnya. Wasit pun segera bertindak dan menghentikan pertandingan.

Malam harinya, Ketua RW segera mengumpulkan kedua pemuda yang beradu jotos tersebut. Keduanya sama-sama tidak mau berdamai dan tidak mau saling memaafkan. Keesokan harinya, panitia mengumumkan bahwa pertandingan bola 17 Agustusan tahun ini dihentikan. Partai semi final dan partai-partai lainnya tidak dilanjutkan dengan alasan bahwa dikhawatirkan akan terjadi keributan yang lebih besar lagi.

Ya, point yang ingin saya sampaikan adalah bukan mengenai 17 Agustusan. Namun mengenai “darah muda” yang tak mau mengalah. Apa yang melatarbelakangi perkelahian dalam sebuah pertandingan bola? Mungkin orang memakluminya, jangankan liga antar club kampung bahkan liga ISL saja sering terjadi adu jotos dan perkelahian antar pemain dan antar penonton. Padahal kita bisa belajar dari liga Eropa seperti Inggris, Belanda, Jerman, Prancis.

Apakah gejolak darah muda tidak dirasakan oleh orang-orang eropa juga? saya yakin, orang eropa juga merasakan gejolaj darah muda yang selalu ingin menang sendiri. Namun faktanya sekarang, di sana minim terjadi perkelahian hingga adu jotos. Apakah orang eropa mampu mengerem amarah? mampu mengerem ‘gejolak darah muda’? Jika iya, apa tips dan metodenya agar pemuda kita mampu menahan amarah dan tidak melampiaskannya dalam bentuk kekerasan?

Apakah faktor pendidikan? makanan? atau budaya kita? atau faktor ekonomi?

Secara geografis, kampung saya berada di daerah pegunungan dengan ketinggian 300 mdpl dan memiliki suhu <30 derajat C. Rata-rata suhunya 27 derajat. Secara budaya dan agama ? ditinjau dari sisi pendidikan formal, umumnya lulusan SLTP-SLTA. Secara pendidikan non-formal? pendidikan keluarga, masyarakat?

Dari kejadian di atas, saya sedang mencoba mengumpulkan bahan penelitian sederhana untuk melihat faktor-faktor apa saja yang membuat orang cepat melampiaskan amarahnya dan apa solusi atas permasalaha tersebut. Namun hingga saat ini masih belum terlihat data-data yang bisa diambil, terlebih metodologinya belum saya temukan. Mungkin ini karena faktor keilmuan yang kurang, maklum tidak sekolah di antropologi, sosiologi atau psikologi 😦

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s