Gara-gara Riba!

Apa yang Anda lakukan saat mengetahui, suami atau istri Anda memiliki hutang di Bank konvensional atau ‘bank keliling’ alias rentenir? Apa yang Anda lakukan, jika teman atau partner usaha Anda meminjam uang dari rentenir atau bank dengan bunga hingga 15-20% per bulan? Atau kita memang tidak perlu tahu ketika suami atau istri kita berhutang sekian juta rupiah kepada orang lain dan utang itu harus dibayar bersama bunganya? Lalu Anda kalang kabut sebab, semua harta dan barang-barang disita karena tidak mampu bayar…

Hmmm,…. Efek riba, memang tidak akan segera datang menghampiri kita. Namun, ia akan datang bebarapa saat setelahnya. Misalnya saja ketika seseorang memiliki usaha dan diperlukan modal untuk meningkatkan omset dan revenue, maka sebagian orang akan segera mengajukan pinjaman ke Bank, baik konvensional maupun syariah bahkan bank yang sangat konvensional alias rentenir. Saat mendapatkan pinjaman itu merasa tertolong, namun setelah tiba waktunya pengembalian maka bencana akan segera menghampiri sejadi-jadinya.

Tentu, hal ini bukan omong kosong. Saya sendiri pernah mengalaminya. Seorang teman/partner usaha tanpa sepengetahuan saya telah meminjam uang ke sekian orang hingga angkanya fantastis. Setelah waktu pengembalian tiba, si teman ini tidak mampu memembayarnya. Alhasil, si pemberi pinjaman menelpon dan menagih ke saya karena si teman tadi adalah partner usaha saya. Setelah ngobrol dan komunikasi panjang lebar, ternyata si teman ini berjanji akan memberikan ‘keuntungan’ 10-20 persen tiap bulannya kepada si pemberi pinjaman. Astagfirullah. Tentu saja saya kaget karena si teman ini tidak pernah cerita kalau dia memiliki utang piutang. Karena melihat laporan keuangannya normal-normal saja.Saya pun segera mencari keberadaan teman ini sembari mencari solusi. Namun nihil yang didapat. Si teman ini menghilang entah kemana, mencari ke rumah istrinya, mertua atau orang tuanya pun tidak ditemukan. Berbulan-bulan mencarinya adalah buang-buang energi. Akhirnya, ditetapkanlah DPO bagi teman saya ini. Biarkan hukum Allah yang membalasnya. Karena hukum di negeri ini baik melalui pengadilan atau melalui kepolisian itu kita tahu bersama. Bahkan bisa nambah keluar uang untuk memprosesnya. Mending move on aja.

Nah, pelajaran yang bisa saya dapat: 1. Hati-hati mencari partner usaha, apalagi partner hidup 🙂 2. Selalu terbuka dan jangan pernah berbohong baik kepada diri sendiri apalagi orang lain. Ketika berbohong pertama, maka akan ada bohong kedua, ketiga dan berbohong ke-n. 3. Jangan pernah berurusan dengan riba, meski bunganya 0.01% sekalipun. 4. Berwirausaha itu harus didasari oleh iman, dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Berdagang, berwirausaha itu bukan untuk memupuk kekayaan tapi untuk bisa lebih berbagi. Benar adanya firman Allah swt:

[2:275] Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s