Medan-Rantauprapat-Sidempuan

Lagi-lagi, perjalanan.

Project kali ini adalah migrasi NPE dari perangkat lama ke perangkat baru di salah satu provider Internet. Saya bersama tim memulainya dengan beberapa meeting dan design yang dibutuhkan. Ah, kawan. Saya tidak akan bercerita tentang pekerjaan. Saya hanya ingin menulis tentang perjalanan Medan – Rantauprapat – Padang Sidempuan.

Landing di bandara Kualanamu, lalu meluncur ke regional office customer. Satu hari digunakan untuk full meeting dan merencanakan pekerjaan minggu depan. Senin malam selepas Isya, kami meluncur ke site yang cukup jauh. Rantauprapat! Tahukah Anda dimana Rantauprapat itu? ia sebuah ibu kota kabupaten Labuhanbatu.

Perjalanan dimulai dari kota Medan mengikuti jalan yang cukup mulus. Setelah 4 jam perjalanan darat, perjalanan mulai meliuk-liuk karena jalan berkelok dan berlubang. Kepala pening sudah tidak tahan. Masuk angin!. Nyaris saja saya muntah, namun kondisi badan masih bertahan.

Jam 3:30 pagi akhirnya kami tiba di kota Rantauprapat dan segera mencari tempat penginapan. Mata sudah tidak kuat menahan kantuk meski di dalam mobil, sempat tidur-tidur ayam. Akhirnya kasur yang sudah dirindukan pun segera dihampiri. Badan dilemparkan ke atas kasur, pun begitu teman-teman saya lainnya. Pulas tertidur.

Suara adzan terdengar sahut menyahut dari entah berantah dan alarm handphone pun berbunyi. Hadeuhh.., kepala masih terasa pusing. Namun, suara adzan telah memaksaku untuk bangun. Segera memaksakan diri bangun, hanya sekadar memenuhi kewajiban. Entah khusuk atau tidak, menggelar sajadah dan memenuhi panggilan-Nya.

Selepas subuh, melanjutkan kembali kegiatan ‘peregangan’ di atas kasur alias bobo. Jam 9 pagi, kawan-kawan saya sudah bangun bahkan sudah ada yang berpakain rapi. Rambut disisir, pakaian udah wangi dan tas siap digendong. Tak lupa update status di laptop masing-masing 🙂

Jam9.30, kawanku rupanya sudah ga memberikan toleransi tidur lebih lama. “Bro, ayo bangun. Kita berangkat!”. Ku hanya menjawab, “masih pagi bro.. bentar lagi”.

Jam9.40an akhirnya bangun dan meluncur ke kamar mandi dan siap-siap berangkat. Jam 10, kami meluncur ke site yang jaraknya tidak begitu jauh. “Bro, sebaiknya kita sarapan dulu ya?” pintaku. “Sekalian aja ntar makan siang!”. Jawab temanku. “Okelah kalau begitu.”

Jam 1 siang, perutku sudah berdemo. Sedangkan temanku satu tim belum juga mau diajak makan siang. Wah, berabe nih kalau begini caranya. Pasti badan gw akan protes kalo telat makan, pikirku.

Jam 2 siang, gw langsung mengajak driver makan tanpa atau tidak bersama temanku. Selesai makan siang jam 3, tak lupa pesan nasi bungkus buat si temenku tadi.

Jam 7 malam, pekerjaan instalasi di site ini sudah 80 % selesai tinggal integrasi dan migrasi. Integrasi tidak bisa dilakukan malam ini karena site lainnya belum dilakukan instalasi. Selepas isya, kami meluncur ke warung makan dan menikmati kuliner Rantauprapat, meski hanya makanan biasa seperti makanan di Jakarta, apalagi kalau bukan ayam goreng, pecel lele atau cah kangkung. 🙂

Jam 9 malam, kami meluncur lagi menuju site berikutnya yaitu Sidempuan. Perjalanan menuju ke sana jauh lebih buruk, jalanan berkelok dan berlubang. Akhirnya tiba jam 1:30an. Kami pun mencari hotel yang masi buka dan mungkin masih kosong kamarnya. Hmm, bukan hotel ini mah. Rumah yang dijadikan penginapan. Ah, peduli amat. Yang penting bisa tidur dan melemeskan otot yang tegang.

Jam 9 pagi kami mulai meluncur kembali ke site Sidempuan, dan melakukan instalasi dan sekaligus integrasi ke Rantauprapat. Kembali tanpa sarapan dan makan siangnya super telat, jam 3 sore. Ah, makin sakit aja badan ini. Jam 5 sore, pekerjaan sudah rampung. Kami pun beristirahat sejenak sembari menikmati secangkir kopi hitam, jagung rebus dan cemilan sisa semalam.

Jam 9 malam, kami meluncur kembali menuju Danau Toba. Inilah destinasi utama kami.

Perjalanan Sidempuan ke Simalungun (Danau Toba) lebih parah, banyak tanah longsor di kanan kiri jalano.  Jalanannya berlubang, Akhirnya, perut tak kuasa menahan goncangan dan jekpot.

Apes, jam 4 subuh, ban mobil kami pecah dan terpaksa kami harus ganti ban. Udara di sekitar (apa nama daerahnya ya?? lupa), begitu dingin. Kami berhenti sejenak di sebuah polsek untuk sekadar mengganti ban dan cuci muka. Setengah jam berikutnya, mobil pun sudah meluncur kembali ke arah Simalungun.

Finaly, jam 5-an kami tiba di pinggir danau Toba. Menikmati udara dingin dan suasana danau yang begitu sejuk. Tak jauh dari sana, suara adzan subuh mengajakku memenuhi panggilan Ilahi.

Dingin airnya, sejuk dirasa. Angin bertiup santai, menelusuk tulang. Sayangnya, belum ada warung kopi yang buka atau sekadar minum teh hangat demi menghangatkan badan.

Setelah berfoto selfi dan menunggu matahari terbit, kami meluncur menuju arah Medan. Jam 9-an pagi, tibalah kami di tempat sarapan, Pematang Siantar. Setelah melewati hutan-hutan, dan perkebunan karet dan sawit. Waktunya sarapan, jangan telat lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s