Bidan Muda dan Bumil

Sebuah kisah di sebuah kampung nan jauh dari kota. Seorang bidan desa, muda dan baru lulus dari sebuah akademi kebidanan dan/atau akademi keperawatan di sebuah kota kecil di kabupatennya. Saya tidak begitu paham. Memulai praktik kebidanannya dan kebetulan sedang ‘musim’ ibu hamil (bumil). Bidan ini pun masih sangat muda, belum punya suami apalagi bayi. Ditugaskan untuk menjadi bidan desa di desa yang jauh dari pusat kota. Ya, tidak jauh-jauh amat, namun sekitar 15 km dari pusat kota. Namun dengan jalan yang berlubang dan tidak sebagus jalanan di kota yang beraspal hitam atau bercor.

bumil-liputanislam-com

Bumil ini kebanyakan ibu-ibu muda yang baru akan memiliki anak. Ibu muda, usia belum genap 20 tahun. Pernikahan dini. Pun begitu dengan sang suami, masih muda dan belum genap 23 tahun. Memiliki latar belakang ekonomi yang biasa-biasa, pendidikan seperti umumnya orang di desa, mungkin SD atau SMP. Akses informasi yang sederhana dan seadanya. Menikah setahun lebih sedikit dan sedang menunggu kelahiran putra pertamanya.

Singkat cerita, si istri mulai gelisah karena si jabang bayi sudah mulai meronta-ronta ingin segera keluar, namun menurut ‘paraji’ bahwa ia belum waktunya keluar, masih cukup waktu. Jadi sabar dulu saja, begitu kata paraji. Paraji adalah sebutan untuk dukun beranak di kampung. Sang suami segera panik saat melihat si istri sudah gelisah, meski sudah ditenangkan oleh si ibu paraji. Alhasil, si suami memaksa agar segera membawa istrinya ke bidan desa. Apalagi si bumil ini menangis dan merasakan gejolak di perutnya. Ah saya tidak bisa membayangkan dan melukiskan istilah dan peristiwa saat si bumil aka melahirkan. Saya hanya bisa menyebutnya ‘gejolak’.

Si bidan desa segera memeriksa sesuai SOP yang beliau pahami, dan menyimpulkan untuk segera merujuknya ke rumah sakit. Si paraji yang menyertai keluarga berargumentasi bahwa si bumil ini tidak perlu dibawa ke RS karena belum waktunya untuk melahirkan, mungkin masih 1-2 hari lagi dan diminta untuk bersabar menahan sakit dan gejolak si jabang bayi.

Alhasil, si bumi dibawa ke RS. Lalu di sana masuk UGD dan dilakukan beberapa tahapan (kalo tidak disebut SOP) dalam persiapan melahirkan. Akhirnya, si RS merekomendasikan agar si bumil ini di-caesar. Hmm, entah bagaimana penulisan ‘sesar’, saya bukan ahli kesehatan apalagi dokter bedah. I hate surgeon!, begitu istilah saya untuk traumatic dengan dokter bedah.

Si suami segera menyepakati dan menandatangi kalau si bumil diizinkan untuk dibedah alias dicaesar setelah beberapa jam berada di ruangan. Sang suami segera memberitahukan kepada keluarga bahwa si bumil akan segera dicaesar sebentar lagi. Terkejutlah orangtua si bumil:

“kenapa harus dibelek? kenapa kami tidak diberikan pendapat? Darimana uangnya? dibelek kan mahal?

Perderbatan diantara mantu dan mertua, tapi pada akhirnya mereka hanya bisa pasrah dan berdoa. Semoga yang terbaik bagi si bumil dan si jabang bayi.

Hmm…Singkat cerita, si bumil dan bayinya selamat dan sudah pulang. Namun setelah beberapa hari, si ibu mengeluh karena terjadi pendarahan di sekitar sayatan perutnya, entah di bagian dalam atau lapisan luar kulitnya. Lalu, dia pun dibawa ke rumah sakit dan dilakukan semacam ‘perbaikan’. Saya menyebutnya, perbaikan. Entah pantas atau tidak, karena bekas sayatannya semacam ditambal atau dijahit ulang oleh tim dokter.

Beberapa bulan setelahnya, si ibu tadi dinyatakan telah menjadi almarhumah. Begitu kisah yang saya dengar dari ayahnya ibu hamil tadi. Cerita beliau begitu mengelus dada dan membuat saya menitikkan airmata. Sebab, kisah beliau memotret beberapa hal: kemiskinan, ketidaktahuan, kesabaran, kekurangan informasi dan pengetahuan, dan cinta. Wallahu’alam.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s