Perpanjang SIM

Lupa tanggal kelahiran, akhirnya SIM pun expired karena lupa diperpanjang Juni 2015 ini. Padahal, sehari sebelum expired, seorang resepsionis gedung Wisma Mulia mengingatkan kalau SIM saya segera expired, saat tukar ID card di sana.

“Mas, SIM nya mau expired”..kata si Mba.

Saya hanya diam saja tanpa menoleh dan mengiyakan, sedang sibuk dengan gadget :-(.

Hari berikutnya, beberapa teman-teman mengirim pesan via whatsapp dan mengucapkan selamat ulang tahun, moga ini…moga itu…. Seperti biasa, saya menjawab aamiin dan terima kasih.

Keesokan harinya, saya cek dompet dan isinya, kartu-kartu.. dan melihat kok SIM sudah expired. Sedikit panik, saya tanya teman sana sini di beberapa grup perihal perpanjang SIM jika tanggal aktif sudah lewat. Beberapa memberitahukan bahwa SIM masih bisa diperpanjang selama setahun. Beberapa lainnya memberitahukan bahwa SIM masih ada tenggat waktu 3 bulan masa perpanjang sejak tanggal terakhir aktif.

Alhasil, saya kroscek dan bertanya sama Mamang Gugel. Dan betul sesuai Surat Telegram No 271/II/2015 bahwa SIM masih bisa diperpanjang 3 bulan sejak tanggal terakhir aktif. Untuk membuktikannya, saya segera meluncur ke pangkalan bis untuk pulang kampung dan perpanjang SIM. Kebetulan hari itu adalah hari Sabtu malam Ahad, dan penumpang tidak teralu banyak.

Jakarta – Cirebon melewati tol baru, Cipali (Cikampek – Palimanan) yang ditempuh 3 jam dari Grogol. Alhamdulillah sampai juga di kampung halaman jam 1 dini hari. Beristirahat 2 jaman dan siap-siap sahur.

Senin pagi, saya meluncur ke Polres Kuningan, Jabar. Membawa foto copy SIM lama dan copy KTP beberapa lembar. Lalu menuju loket 1 dan menanyakan prosedur perpanjang. Ibu polwan yang menjawab bahwa lengkapi persyaratannya:

1. Copy KTP dan SIM lama

2. Surat keterangan sehat dari klinik.

Seperti biasa meluncur ke Klinik yang tidak jauh dari Polres. Dan bukan klinik sebenarnya, namun ada 2 orang (mungkin perawat). Nunggu antrian beberapa saat untuk dipanggil dan tibalah giliran.

Petugas tersebut menanyakan beberapa hal, seperti tinggi badan, berat badan, golongan darah. Lalu petugas tersebut menuliskan informasi tersebut ke dalam selembar kertas lalu saya diminta uang pas Rp 25.000, sebagai administrasi cek kesehatan. Oh ternyata, tanpa perlu dicek dan diukur sehat atau tidaknya. Yang pasti memang saya sehat, cuma sedikit pilek aja.. Ya, indonesiah banget.. :-))

Setelah surat didapat, saya diminta ke meja sebelah. Di sana sudah ada seorang petugas perempuan. Ternyata agen asuransi (PT Asuransi Bhakti Bhayangkara). Dia basa basi sedikit, dan menjelaskan tentang asuransinya dan berikutnya saya tanya. “Bu, ini asuransi wajib atau boleh tidak ikutan”.

Si ibu terdiam sejenak, dan menjawab: “ini direkomendasikan..”.

“Okelah kalo begitu…”, saya pun membayarnya dan tak mau ambil pusing. Biayanya Rp. 30.000,-.

Setelah mendapat surat keterangan sehat dan membayar biaya asuransi, lalu saya menuju loket 1 dan membayar biaya perpanjangan SIM C sebesar 100 ribu rupiah. Si petugas loket (ibu-ibu), menyuruh saya untuk menunggu panggilan jadwal pemotretan SIM.

Tak sampai 30 menit, beberapa orang dipanggi termasuk saya, untuk difoto dan verifikasi nama, alamat, pekerjaan dst. Menunggu antrian dan akhirnya saya selesai difoto dan tandatangan. Lalu disuruh kembali duduk di kursi tunggu menunggu pencetakan SIM.

15-20 menit kemudian, nama saya dipanggil dan SIM pun sudah di tangan. Alhamdulillah.