Novel El Shirazy: Api Tauhid

Beberapa waktu lalu saya membeli buku novel yang ditulis oleh Habiburahman El Shirazy berjudul Api Tauhid. Mengisahkan perjalanan seorang tokoh dai, sufi sekaligus pejuang Turki pada masa detik-detik terakhir Turki Utsmani runtuh hingga kemenangan sekular yang dipelopori oleh Kemal Attatruk.  Bahkan tokoh ini pun telah di-film-kan.

Said Nursi, adalah nama tokoh tersebut. Beliau terlahir dari seorang ibu yang shalihah dan ayah yang sholih. Dididik dengan kejujuran, kesahajaan, kesederhanaan dan dibekali dengan pendidikan agama yang baik. Ya, memang orang sholih akan ketemu dengan orang sholihah dan sebaliknya (mungkin). Juga akan melahirkan anak-anak yang sholih. Tentu faktor genetik dan pendidikan keluarga bukan satu-satunya faktor seorang anak itu menjadi sholih, namun ‘bahan baku’-nya sudah sholih maka kemungkinan sholihnya lebih besar dibandingkan dengan anak yang orang tuanya kurang sholih atau kurang baik dalam mendidik anak-anaknya.

Said Nursi merupakan anak ke-? (lupa saya euy) ya pokonya beliau memiliki kakak dan adik. Said Nursi – nama Nursi merujuk pada nama kampungnya – terlahir dengan hafalan yang kuat, kecerdasan yang luar biasa dibanding adik atau kakak-kakaknya. Belajar mengaji pada kakaknya yang saat itu sedang belajar di suatu ‘pesantren’ – saya menyebutnya pesantren padahal di novel aslinya bukan disebut pesantren, namun semacam madrasah. Setiap akhir pekan, kakaknya pulang ke kampungnya dan mengajarkan baca tulis alquran. Seiring waktu, semua ilmu yang disampaikan kakaknya dapat diserap dengan baik dan cepat. Saking cepatnya, dia memohon sama orang tuanya agar dia bisa belajar di pesantren bersama kakaknya, namun ibunya belum mengizinkan.

Setelah beberapa waktu lamanya, melihat perkembangan anaknya akhirnya orang tuanya mengizinkan Said kecil untuk belajar. Beliau lalu belajar satu ‘pesantren’ dengan kakaknya. Nursi belajar mengikuti kelas basic namun ternyata ia bosan karena menurutnya kelas tersebut sudah ia pahami, lalu ia meminta agar akselerasi ke kelas atasnya. Tentu saja sang guru tidak mengizinkan, namun Nursi memaksa dan meminta mengujinya bahwa ia layak untuk duduk di kelas berikutnya. Ujian pun ia lalui dan lulus hingga level tertinggi. Lalu ia pamit untuk pergi ke pesantren lainnya.

Di pesantren lainnya, ia kembali mendapat posisi di level bawah dan seperti sebelumnya, ia tidak puas dan meminta diuji agar ia bisa duduk di kelas yang lebih tinggi. Gurunya memberi beberapa buku agar dibaca dan dipelajari lalu setelah selesai akan diuji. Ujian pun lancar. begitu seterusnya hingga beberapa pesantren ia sambangi, hingga akhirnya ia tiba di suatu pesantren dan di sana ia mendapat gelar ‘ulama’ dan layak menyandang sorban ke-ulama-an. Namun Nursi tidak ingin memakainya, ia hanya berpakain biasa ala seorang Turki.

Saking cerdasnya, dan kemampuan dan pemahaman agama yang tinggi maka banyak para ulama di sana ingin menguji dan berdebat dengan Nursi. Forum ilmiah pun dilakukan dan Nursi selalu jadi pemenang dalam debat atau adu argumentasi permasalahan agama. Sampai-sampai seperti tidak ada lawan tanding karena Nursi selalu memenuhi panggilan untuk berdebat. Inilah fase Nursi kecil  hingga muda.

Di fase muda, ia sangat bergairah dan sangat haus ilmu. berkeliling dari satu kota ke kota lainnya, dari satu pesantren ke pesantren lainnya untuk menyerap pengetahuan yang ada di sana.

Ketika ia berada di kota, beliau menyadari bahwa masyarakat Turki sudah sangat jauh dari Islam. Berpakaian ala eropa, banyak wanita berpakaian yang percis seperti eropa dimana aurat dibuka dimana-mana, para pemuda jauh dari masjid dan jauh dari agama. Hal ini membuat Nursi muda menjadi berfikir keras agar Turki tidak boleh melupakan identitas keislamanya, mereka harus bangga dengan budaya islam dan Turkinya, bukan berbangga-bangga dengan budaya Eropa. Beliau pun menulis surat yang ditujukan kepada Sultan agar ini dan itu. Sayangnya hal itu tidak kesampean.

Beliau pun akhirnya menempuh cara lain yaitu membangun majlis-majlis ilmu di masjid, beliau menjadi narasumber bagi setiap orang yang bertanya, beliau pun mengisi ceramah dan majlis-majlis ilmu. Lambat laun banyak sekali orang yang merasa tercerahkan dan semakin banyak yang menjadi pengikutnya.

Perpolitikan Turki Utsmani saat itu sedang berada di masa paling kritis dimana pengaruh Eropa dan Barat semakin menjadi. Turki Utsmani pun terlibat PD 1, Nursi pun mengumandangkan jihad melawan sekutu, beliau pun memanggul senjata melawan musuh. Namun akhirnya Utsmani kalah dan banyak wilayah kekuasaan Utsmani direbut blok sekutu seperti Palestina, Suriah, dsk. Kekuasaan Utsmani makin melemah dan puncaknya, Turki dikudeta oleh militer di bawah Kemal. Kemal pun berkuasa. Rezim kemal begitu refresif dan kejam, bahkan Adzan pun dilarang menggunakan bahasa arab, kegiatan keagamaan dibatasi dsb.

Nursi tetap berdakwah di majlis-majlis ilmu dari masjid ke masjid. Mengajak agar ummat kembali kepada al Quran dan sunnah, agar mengamalkan isinya. Pengikut Nursi pun semakin banyak. Seiring banyaknya pengikut Nursi maka ada kekhawatiran dari pihak penguasa terhadap kegiatan-kegiatan Nursi. Hingga suatu waktu Nursi dijebloskan ke dalam penjara, dari penjara satu ke penjara lainnya karena dianggap sebagai ‘berbahaya’. Ya, memang begitulah penguasa yang sekular. Selalu takut terhadap Islam dan kemajuannya.

Nursi pun hampir 25 tahun lamanya berada di dalam penjara. Ia habiskan waktu itu dengan menulis dan mengajarkan Islam kepada murid-muridnya.

Di masa tuanya, Nursi banyak menghabiskan waktunya di masjid dan mengajar di majlis-majlis ilmu. Hingga akhir hayatnya. Allahummaghfirlahu warhamu wa’afiihi wa’fu ‘anhu.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s