Antara Da’wah dan ….

Selepas sholat jamaah di masjid, sang imam mengajak ngobrol mengenai perkembangan keislaman dan kendala syiar Islam di desa ini.

Salah seorang ustadz bersemangat menceritakan kegiatan yang diadakan di masjid dan mushola di desaku dengan bersemangat, meski saya tidak bisa menangkap apa saja detil isi kegiatan di tiap masjid. Sang imam pun antusias menyimaknya bahkan meminta agar beliau dikabari via sms/tlp jika ada kegiatan bulanan di masjid ini.

Sang ustadz pun bercerita tentang kendalanya beliau dalam amar makruf nahi munkar, misalnya memberantas penyalahgunaan narkoba oplosan, pergaulan bebas anak muda dan bahkan perkembanganbiakan anjing dimana banyak pemilik anjing yang membiarkan anjingnya berkeliaran bebas. Tentu dalam persfektifnya, anjing tidak boleh dipiara apalagi dibudidayakan dan diperjualbelikan karena memang haram, apalagi pemilik anjing tersebut beragama islam.

Sang ustadz pun meminta saran pada sang imam, apa solusinya?

Sang imam pun memberi masukan agar dilakukan dengan persuasif, misalnya dengan membatasi jumlahnya, mengurungnya di dalam satu komplek si pemiliknya.

Sang imam, saya kenal beliau seorang hafidz, sudah malang melintang berdakwah di beberapa negara seperti Pakistan, India, Bangladesh, Jepang dan sekarang bermukim di kampung istrinya di sebelah selatan kecamatan, sambil membina majlis ta’lim, beliau kakak kelas saya di SD. Beliau sedang bersilaturahim ke kerabatnya di desa.

Suatu hari, saya mengunjungi kebun milik orang tua di utara desa. Melewati beberapa pesawahan, dan kebun jati. Ada satu lokasi peternakan ayam potong, di jalanan yang dilewati ada banyak anjing, mungkin ada 6-10. Saya berhenti dan ngobrol ngalor ngidul, dimana di sana ada teman se-SD dan beberapa orang yang nampaknya lebih muda dari kami. Ngobrol ngaler ngidul dengan si anak muda, ia pun berkeluh  (bersambung…)

Advertisements

I’tikaf, antara syariat dan tradisi

Prof Nasarudin Umar mengingatkan jamaah agar selalu semangat beribadah di hari-hari terakhir Ramadhan dengan memperbanyak zikir, baca sholawat, baca quran, qiyamullail dan tadabbur kandungan alquran.

Beliau mengingatkan bagaimana dulu para sahabat Nabi Muhammad sangat bersemangat untuk qiyamullail sampe-sampe para sahabat menyiapkan tali penopang agar ia bisa tetap berdiri qiyamullail di sepuluh hari terakhir. Memaksa kaki dan tangannya agar mau diajak berdiri dalam rangka qiyamullail.

I’tikaf memang disyariatkan oleh Nabi kita, dan ini juga bukti kita sebagai pengikut dan bukti kita cinta kepada Nabi Muhammad.
Tentu saja bagi kita yang belum terbiasa dengan sholat malam, akan sangat susah untuk bangun dan bergegas ke tempat wudhu dan melaksanakan qiyamullail. Rasa kantuk dan lelah ditambah godaan syaitan yang menggoda kita untuk tetap terlelap.

Iman dan motivasi memang yang harus terus dipupuk agar kemalasan dan rasa kantuk bisa dilawan. Dimulai 00:30, sang qori melantunkan tilawah beberapa ayat..