Membaca yang terlewatkan

Baca!, Baca! baca!..dengan menyebut nama-Mu.

Begitu kurang lebih ayat pertama yang diturunkan kepada sang Rasul.

Kalo menyimaknya dengan baik, memang membuat sayah suka merasa bersalah. Kitab suci yang sudah lama tersimpan di atas rak buku, di paling atas tumpukan buku-buku, masih saja jarang dibaca. Seminggu sekali saja. Ah, itu sangat parah menurut sayah. Belum lagi beberapa buku yang dibeli di awal tahun di acara Islamic Book Fair, Jakarta, yang menghabiskan anggaran hingga lebih dari 1jt namun belum juga selesai dibaca.

Mulai dari genre novel, sejarah, ekonomi, filsafat hingga tafsir dan doa-doa Syeikh Hadad. Sayangnya hanya menumpuk di atas rack. Baru beberapa novel dan sejarah yang bisa dibaca. Sudah bulan ke-9 di tahun 2016, mungkin hanya 3-4 buku yang sudah selesai dibaca. Masih ada puluhan buku lagi.

Belum lagi bahan bacaan pekerjaan dan sertifikasi, masih ada puluhan ebook yang masih belum khatam dibaca. Ya, waktu lebih banyak digunakan untuk pekerjaan dan duniawiah. Naudzhubillah.

 

inequality

Inequality. What can be done?

Sebuah judul buku yang di-shared oleh salah seorang teman kampus, ditulis oleh Anthony B. Atkinson. Membaca beberapa daftar isi dan pendahuluannya, membuat dahi berkerut. Maklum sudah lama tidak membaca buku yang terkait ekonomi atau buku sosial lainnya.

Pertumbuhan ekonomi, kemiskinan dan problem sosial lainnya. Di negara berkembang atau negara miskin, ketidakmerataan ini menjadi isu domestik dimana-mana. Lalu dimana kita? apa yang bisa kita lakukan?

Inequality: ketidaksamaan, ketidakmerataan. Apa yang bisa dilakukan?