GNS3 v2.0.3 Runtime Library Error

Mencoba GNS3 versi terbaru saat ini 2.0.3. Sayangnya banyak errornya, lebih enak menggunakan versi lawas 0.8.7:

Masih belum ketemu solusinya.

Advertisements

Kebijakan Penggunaan Uang Elektronik (e-money)

Menurut berita CNN Indonesia, mulai Oktober ini semua pembayaran tol menggunakan non tunai, alias menggunakan e-money, via kartu. Sebenarnya tidak hanya tol yang memberlakukan kartu, namun hampir semua seperti TransJakart, dan KRL Jabodetabek.

Tentu saja dari sisi banking, sangat menguntungkan. Sebab, semua uang fisik ‘ditanam’ di bank yang bersangkutan. Misalnya, Mandiri memproduksi kartu e-money. Semua orang yang menggunakan jasa TransJakarta, Tol dan KRL akan melakukan deposit ke Bank Mandiri, dan uang tersebut akan diambil saat transaksi KRL/Tol berlangsung.

Andai saja satu penggunana e-money melakukan topup 50rb, maka jika ada 1000 pengguna KRL/TransJakarta, 10.000, 10jt user yang menggunakannya setiap bulan, maka ada berapa duit yang parkir di bank tersebut.

Misalnya ada 10rb pengguna x @50rb =500 jt. Kalo lebih?

dan apakah bank menerapkan bunga? hmm…kita memperkaya si bank dengan bunga-kah? atau kita tunggu saja fatwa MUI.

Dari sisi pengguna, kemudahan, fleksibilitas dan kecepatan mungkin yang jadi nilai tambah. Tak perlu repot-repot bawa uang cash, dompet gak penuh, gak perlu ke ATM untuk tarik tunai.

Problem Bunga Bank

Bagi muslim, bunga bank itu haram digunakan, dikonsumsi. Mem-parkir duit dg imbalan bunga, menjual duit dengan duit, bahkan menjadi saksi bagi transaksi riba, tentu saja diharamkan. Dilarang. Tidak boleh dilakukan oleh seorang muslim. Haram ekivalen dengan “terlarang, gak boleh dilakukan/dikonsumsi”.

Ya, ini dilematis. Di satu sisi, sistemnya sudah serba bank. Di satu sisi kita perlu hati-hati dan menghindari riba. Fatwa MUI, bunga bank itu haram. Bahkan ‘fatwa’ emak saya, bekerja di bank pun dilarang, cari kerjaan lain yang lebih jelas halalnya: bekerja di tempat yang tidak melakukan praktik haram atau berdagang saja.

Haram memang ada dua jenis:

  1. Haram karena object-nya haram. Misalnya: babi, anjing, bangkai (kecuali ikan dan belalang), darah, sembelihan tanpa menyebut nama Allah, itu semua haram. Atau praktik riba. Jelas haram, termasuk bunga bank.
  2. Haram karena cara mendapatkan object tersebut. Misalnya, beras, daging kambing, sapi atau ayam itu halal. Kalo hasil curian maka haram jadinya. Atau kambing/sapi/ayam dipotongnya gak dilakukan oleh muslim dan tidak menyebut nama allah (bismillah), maka haram juga.

Ya, kita hidup di dunia yang makin menua, di akhir zaman. Agak sulit memang, halal haram sudah banyak tercampur/dicampur. Kadang kehidupan di masyarakat kita yang sudah tidak peduli lagi halal-haram, yang penting perut terisi, anak bisa sekolah dst. Malah ada yang punya istilah: “nyari yang haram aja susah, apalagi yang halal”. Namun balik lagi ke pilihan kita. Hidup kita apakah hanya untuk di dunia yang sementara ini? atau kita akan hidup kembali setelah kematian dunia. Hidup kekal di akhirat, dan mempertanggungjawabkan apa yang kita lakukan di dunia.

Ada surga dan neraka, silakan dipilih. Percaya syukur, gak juga silakan jalani sendiri.