inequality

Inequality. What can be done?

Sebuah judul buku yang di-shared oleh salah seorang teman kampus, ditulis oleh Anthony B. Atkinson. Membaca beberapa daftar isi dan pendahuluannya, membuat dahi berkerut. Maklum sudah lama tidak membaca buku yang terkait ekonomi atau buku sosial lainnya.

Pertumbuhan ekonomi, kemiskinan dan problem sosial lainnya. Di negara berkembang atau negara miskin, ketidakmerataan ini menjadi isu domestik dimana-mana. Lalu dimana kita? apa yang bisa kita lakukan?

Inequality: ketidaksamaan, ketidakmerataan. Apa yang bisa dilakukan?

 

 

PKL digusur

Seminggu yang lalu, beberapa jalanan di ibukota hingga masuk ke pemukiman penduduk telah digaruk dan diaspal ulang. Jalanan mulai halus dan licin.

Seminggu setelahnya, satpol PP dan petugas kelurahan mulai menggusur pedagang kaki lima (PKL) dan pedagang-pedagang yang mangkal di sekitar komplek dan jalan-jalan yang menghubungkan jalan besar Tomang Raya, Gatot Subroto, Cideng ke Tanah Abang, Duri dan Citraland, Grogol dan Jembatan Besi. Semua PKL dibabat habis. Per 1 Desember 2015, semua PKL tidak boleh lagi berjualan. Dengan spanduk bertuliskan:

Dilarang berjualan di areal xxx sesuai Perda No. x Tahun 200x.

Sebagai konsumen PKL, saya juga jadi kesulitan mencari tempat makan atau tempat ngopi. Bagi pedagang, periuk mereka menjadi tidak lagi terisi. Dilihat dari tata kota dan keindahan, PKL yang berjualan di sana tidak terlihat ‘indah’ dan nampak semerawut. Namun, apakah mereka tidak boleh ‘menghiasi’ ibukota dengan ‘karya seni’ ala mereka sendiri? apakah ibukota hanya untuk mereka yang berdasi dan duduk di bangku kantor yang empuk dan ber-AC? atau hanya untuk Ahok dan pejabat ibukota? apakah mereka tidak boleh mencari penghidupan di ibukota?

Biasanya di TV-TV, pejabat ibukota akan diwawancarai mengenai penggusuran PKL ini dan dengan mudahnya pejabat ibukota akan bilang:

nanti PKL yang terdaptar akan kita relokasi ke tempat baru yang lebih layak.

Ya, mungkin PKL yang mangkal nampak kumuh dan semerawut. Namun itulah realitas di negeri ini. Mencari sesuai nasi itu harus seperti itu. Tidak semua orang bisa bekerja di kantor-kantor di Thamrin – Sudirman, tidak semuanya harus berdasi dan atau menjadi pejabat di ibukota.

Lalu dimana pemerintah? dimanakah fungsi dan peran negara?apakah negeri dan masyarakat ini dibiarkan autopilot?

Darah Muda di 17 Agustus-an

sepakbolaSetiap Agustus, di kampung saya selalu diadakan pertandingan sepak bola yang diikuti oleh remaja hingga remako (remaja kolot, red.). Pertandingan sepak bola ini biasa diadakan di sore hari sekitar jam 3 hingga jam 5.30. Di awal tahun 200o-an, pertandingan itu dilakukan sebanya satu sesi per hari dengan waktu standar 2×45 menit. Namun semenjak 3-5 tahun terakhir ini pertandingan diadakan sebanyak dua sesi dan waktunya juga menjadi lebih sedikit yaitu 2×30 menit.

 

Setiap tahun, hanya pertandingan sepak bola saj ayang diminati banyak penonton. Pertandingan yang lain seperti bulu tangkis atau bola voly pernah dipertandingkan namun peminat dan penontonnya tidak banyak. Alhasil, kedua jenis olah raga ini tidak dipertandingkan lagi. Pertandingan hanya dilakukan oleh segelintir orang yang memang berminat dan karena hobi. Namun, sepak bola memang menjadi olah raga yang merakyat dan sangat diminati oleh banyak orang.

Di tahun 2000-an, setiap RW atau dusun mengirimkan satu tim, misalnya Dusun Manis mengirimkan tim denga Continue reading “Darah Muda di 17 Agustus-an”