Kebijakan Penggunaan Uang Elektronik (e-money)

Menurut berita CNN Indonesia, mulai Oktober ini semua pembayaran tol menggunakan non tunai, alias menggunakan e-money, via kartu. Sebenarnya tidak hanya tol yang memberlakukan kartu, namun hampir semua seperti TransJakart, dan KRL Jabodetabek.

Tentu saja dari sisi banking, sangat menguntungkan. Sebab, semua uang fisik ‘ditanam’ di bank yang bersangkutan. Misalnya, Mandiri memproduksi kartu e-money. Semua orang yang menggunakan jasa TransJakarta, Tol dan KRL akan melakukan deposit ke Bank Mandiri, dan uang tersebut akan diambil saat transaksi KRL/Tol berlangsung.

Andai saja satu penggunana e-money melakukan topup 50rb, maka jika ada 1000 pengguna KRL/TransJakarta, 10.000, 10jt user yang menggunakannya setiap bulan, maka ada berapa duit yang parkir di bank tersebut.

Misalnya ada 10rb pengguna x @50rb =500 jt. Kalo lebih?

dan apakah bank menerapkan bunga? hmm…kita memperkaya si bank dengan bunga-kah? atau kita tunggu saja fatwa MUI.

Dari sisi pengguna, kemudahan, fleksibilitas dan kecepatan mungkin yang jadi nilai tambah. Tak perlu repot-repot bawa uang cash, dompet gak penuh, gak perlu ke ATM untuk tarik tunai.

Problem Bunga Bank

Bagi muslim, bunga bank itu haram digunakan, dikonsumsi. Mem-parkir duit dg imbalan bunga, menjual duit dengan duit, bahkan menjadi saksi bagi transaksi riba, tentu saja diharamkan. Dilarang. Tidak boleh dilakukan oleh seorang muslim. Haram ekivalen dengan “terlarang, gak boleh dilakukan/dikonsumsi”.

Ya, ini dilematis. Di satu sisi, sistemnya sudah serba bank. Di satu sisi kita perlu hati-hati dan menghindari riba. Fatwa MUI, bunga bank itu haram. Bahkan ‘fatwa’ emak saya, bekerja di bank pun dilarang, cari kerjaan lain yang lebih jelas halalnya: bekerja di tempat yang tidak melakukan praktik haram atau berdagang saja.

Haram memang ada dua jenis:

  1. Haram karena object-nya haram. Misalnya: babi, anjing, bangkai (kecuali ikan dan belalang), darah, sembelihan tanpa menyebut nama Allah, itu semua haram. Atau praktik riba. Jelas haram, termasuk bunga bank.
  2. Haram karena cara mendapatkan object tersebut. Misalnya, beras, daging kambing, sapi atau ayam itu halal. Kalo hasil curian maka haram jadinya. Atau kambing/sapi/ayam dipotongnya gak dilakukan oleh muslim dan tidak menyebut nama allah (bismillah), maka haram juga.

Ya, kita hidup di dunia yang makin menua, di akhir zaman. Agak sulit memang, halal haram sudah banyak tercampur/dicampur. Kadang kehidupan di masyarakat kita yang sudah tidak peduli lagi halal-haram, yang penting perut terisi, anak bisa sekolah dst. Malah ada yang punya istilah: “nyari yang haram aja susah, apalagi yang halal”. Namun balik lagi ke pilihan kita. Hidup kita apakah hanya untuk di dunia yang sementara ini? atau kita akan hidup kembali setelah kematian dunia. Hidup kekal di akhirat, dan mempertanggungjawabkan apa yang kita lakukan di dunia.

Ada surga dan neraka, silakan dipilih. Percaya syukur, gak juga silakan jalani sendiri.

Advertisements

Ibuku sayang

Ba’da sholat Ashar, saya dan seorang teman lama ngobrol ngaler ngidul di tengah rumah sambil ngopi-ngopi sembari menunggu hujan mereda. Sesekali temanku ini memetik gitar menyanyikan beberap lagu. Saya hanya bisa menyimak petika gitar. Temanku ini lihai sekali main gitar, beliau orang bandung, yang umumnya banyak yang pandai memainkan gitar. Saya pun diajari beberapa teknik dasar memetik gitar yang lama sekali tak pernah diasah. Saya pun mulai memetik dengan teknik yang diajarkannya. Dan tak sabar untuk menyanyikan lagu favorit: Ibu (Iwan Fals).

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh

Lewati rintang untuk aku anakmu

Ibuku sayang masih terus berjalan

Walau tapak kaki, penuh darah… penuh nanah
Seperti udara… kasih yang engkau berikan

Tak mampu ku membalas…ibu…ibu
Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu

Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu

Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku

Dengan apa membalas…ibu…ibu….
Seperti udara… kasih yang engkau berikan

Tak mampu ku membalas…ibu…ibu

Kalo memainkan lagu ini, jadi teringat sama ibu yang sudah lama tiada, kadang suka meneteskan air mata tanpa sadar.

Tiba-tiba suara telpon berdering keras dan berkali-kali. Segera saja ku sambar telepon dan ku jawab salamnya.

my sister: wahaji Dersi teu aya.

me: innalillahi wainnailihi roojiuun.

Ternyata di akhir April 2017 ini satu-satunya uwa perempuan pulang ke rohmatullah. Beliau adalah kakaknya ibuku, orang yang paling dekat dan bahkan mirip wajahnya dengan ibuku. Dua minggu lalu beliau masuk rumah sakit karena sudah tidak bisa masuk apapun ke dalam tubuhnya. Rupanya sang kholik sudah menjemputnya.

Saya pun segera order Go-Jek dan meluncur ke terminal untuk pulang kampung. Sampai di kampung halaman ternyata sudah tengah malam, dan jenazahnya pun sudah dikebumikan.

Selepas subuh, saya pun berziarah ke makamnya. Makamnya tepat di samping teteh-nya, anak tertua, dimana sudah duluan berpulang ke rohmatulloh. Berdoa beberapa baris doa untuk uwa dan juga menziarahi ibu dan bapakku yang makamnya hanya beberapa meter dari makam uwa.

allahummaghfirlahum warhamhum wa’afihim wa’fu ‘anhum.

Balik Nama Surat Pajak Bumi dan Bangunan

Beberapa hari libur, saya gunakan untuk pulang kampung sekadar melepas lelah dan kangen kampung halaman. Pagi hingga siang digunakan untuk berkeliling-keliling atau sekadar nongkrong di saung sambil ngopi di sawah. Sore hari hingga tengah malam digunakan untuk bersilaturahim dengan teman dan para senior di kampung, sekadar bercanda tawa, ngopi bareng dan berbagi pengalaman hidup berumah tangga dan bermasyarakat.

Suatu waktu, seorang kawan berkeluh kesah karena dia harus membayar sekian ratus ribu rupiah kepada aparat desa saat ia mau ‘balik nama’ SPPT PBB. Saya pun kaget dan mengerutkan dahi, kok semahal itu biaya balik nama pajak. Saya pun kroscek ke beberapa orang, salah satunya sepupu saya. Betul memang, sepupu saya pun telah selesai balik nama PBB dan biayanya ratusan ribu per SPPT.

Berbekal informasi di lapangan, saya pun mencari informasi tambahan di Internet bahwa biaya perubahan SPPT PBB adalah gratis. Lalu saya pun kroscek ke kantor Dinas Pendapatan Daerah (dulu namanya Dispenda), dan hasilnya benar memang gratis. Saya pun meminta informasi lainnya sebagai persyaratan, dan petugas Dispenda pun memberikan beberapa formulir sebagai persyaratan yang perlu dibawa saat pengajuan perubahan SPPT.

Berikut persyaratannya:

  1. Surat pengajuan perubahan SPPT (formulirnya bisa minta ke dispenda)
  2. Surat/akta jual beli tanah (jika hasil jual beli) atau surat pernyataan ahli waris jika objek pajak itu hasil waris.
  3. Surat pernyataan lainnya yang berisi informasi objek pajak (informasi alamat, denah/sketsa objek pajak dll)
  4. surat asli SPPT PBB.
  5. copy KTP.

Saya pun mencoba mengajukan perubahan tsb untuk kebun yang saya beli dari paman saya. Melengkapi semua persyaratan dan mengajukannya ke dispenda. Menurut petugas, akan diproses selama kurang lebih sebulan dan kita tinggal menunggu saja.

Membaca yang terlewatkan

Baca!, Baca! baca!..dengan menyebut nama-Mu.

Begitu kurang lebih ayat pertama yang diturunkan kepada sang Rasul.

Kalo menyimaknya dengan baik, memang membuat sayah suka merasa bersalah. Kitab suci yang sudah lama tersimpan di atas rak buku, di paling atas tumpukan buku-buku, masih saja jarang dibaca. Seminggu sekali saja. Ah, itu sangat parah menurut sayah. Belum lagi beberapa buku yang dibeli di awal tahun di acara Islamic Book Fair, Jakarta, yang menghabiskan anggaran hingga lebih dari 1jt namun belum juga selesai dibaca.

Mulai dari genre novel, sejarah, ekonomi, filsafat hingga tafsir dan doa-doa Syeikh Hadad. Sayangnya hanya menumpuk di atas rack. Baru beberapa novel dan sejarah yang bisa dibaca. Sudah bulan ke-9 di tahun 2016, mungkin hanya 3-4 buku yang sudah selesai dibaca. Masih ada puluhan buku lagi.

Belum lagi bahan bacaan pekerjaan dan sertifikasi, masih ada puluhan ebook yang masih belum khatam dibaca. Ya, waktu lebih banyak digunakan untuk pekerjaan dan duniawiah. Naudzhubillah.

 

Novel El Shirazy: Api Tauhid

Beberapa waktu lalu saya membeli buku novel yang ditulis oleh Habiburahman El Shirazy berjudul Api Tauhid. Mengisahkan perjalanan seorang tokoh dai, sufi sekaligus pejuang Turki pada masa detik-detik terakhir Turki Utsmani runtuh hingga kemenangan sekular yang dipelopori oleh Kemal Attatruk.  Bahkan tokoh ini pun telah di-film-kan.

Said Nursi, adalah nama tokoh tersebut. Beliau terlahir dari seorang ibu yang shalihah dan ayah yang sholih. Dididik dengan kejujuran, kesahajaan, kesederhanaan dan dibekali dengan pendidikan agama yang baik. Ya, memang orang sholih akan ketemu dengan orang sholihah dan sebaliknya (mungkin). Juga akan melahirkan anak-anak yang sholih. Tentu faktor genetik dan pendidikan keluarga bukan satu-satunya faktor seorang anak itu menjadi sholih, namun ‘bahan baku’-nya sudah sholih maka kemungkinan sholihnya lebih besar dibandingkan dengan anak yang orang tuanya kurang sholih atau kurang baik dalam mendidik anak-anaknya.

Said Nursi merupakan anak ke-? (lupa saya euy) ya pokonya beliau memiliki kakak dan adik. Said Nursi – nama Nursi merujuk pada nama kampungnya – terlahir dengan hafalan yang kuat, kecerdasan yang luar biasa dibanding adik atau kakak-kakaknya. Belajar mengaji pada kakaknya yang saat itu sedang belajar di suatu ‘pesantren’ – saya menyebutnya pesantren padahal di novel aslinya bukan disebut pesantren, namun semacam madrasah. Setiap akhir pekan, kakaknya pulang ke kampungnya dan mengajarkan baca tulis alquran. Seiring waktu, semua ilmu yang disampaikan kakaknya dapat diserap dengan baik dan cepat. Saking cepatnya, dia memohon sama orang tuanya agar dia bisa belajar di pesantren bersama kakaknya, namun ibunya belum mengizinkan.

Setelah beberapa waktu lamanya, melihat perkembangan anaknya akhirnya orang tuanya mengizinkan Said kecil untuk belajar. Beliau lalu belajar satu ‘pesantren’ dengan kakaknya. Nursi belajar mengikuti kelas basic namun ternyata ia bosan karena menurutnya kelas tersebut sudah ia pahami, lalu ia meminta agar akselerasi ke kelas atasnya. Tentu saja sang guru tidak mengizinkan, namun Nursi memaksa dan meminta mengujinya bahwa ia layak untuk duduk di kelas berikutnya. Ujian pun ia lalui dan lulus hingga level tertinggi. Lalu ia pamit untuk pergi ke pesantren lainnya.

Di pesantren lainnya, ia kembali mendapat posisi di level bawah dan seperti sebelumnya, ia tidak puas dan meminta diuji agar ia bisa duduk di kelas yang lebih tinggi. Gurunya memberi beberapa buku agar dibaca dan dipelajari lalu setelah selesai akan diuji. Ujian pun lancar. begitu seterusnya hingga beberapa pesantren ia sambangi, hingga akhirnya ia tiba di suatu pesantren dan di sana ia mendapat gelar ‘ulama’ dan layak menyandang sorban ke-ulama-an. Namun Nursi tidak ingin memakainya, ia hanya berpakain biasa ala seorang Turki.

Saking cerdasnya, dan kemampuan dan pemahaman agama yang tinggi maka banyak para ulama di sana ingin menguji dan berdebat dengan Nursi. Forum ilmiah pun dilakukan dan Nursi selalu jadi pemenang dalam debat atau adu argumentasi permasalahan agama. Sampai-sampai seperti tidak ada lawan tanding karena Nursi selalu memenuhi panggilan untuk berdebat. Inilah fase Nursi kecil  hingga muda.

Di fase muda, ia sangat bergairah dan sangat haus ilmu. berkeliling dari satu kota ke kota lainnya, dari satu pesantren ke pesantren lainnya untuk menyerap pengetahuan yang ada di sana.

Ketika ia berada di kota, beliau menyadari bahwa masyarakat Turki sudah sangat jauh dari Islam. Berpakaian ala eropa, banyak wanita berpakaian yang percis seperti eropa dimana aurat dibuka dimana-mana, para pemuda jauh dari masjid dan jauh dari agama. Hal ini membuat Nursi muda menjadi berfikir keras agar Turki tidak boleh melupakan identitas keislamanya, mereka harus bangga dengan budaya islam dan Turkinya, bukan berbangga-bangga dengan budaya Eropa. Beliau pun menulis surat yang ditujukan kepada Sultan agar ini dan itu. Sayangnya hal itu tidak kesampean.

Beliau pun akhirnya menempuh cara lain yaitu membangun majlis-majlis ilmu di masjid, beliau menjadi narasumber bagi setiap orang yang bertanya, beliau pun mengisi ceramah dan majlis-majlis ilmu. Lambat laun banyak sekali orang yang merasa tercerahkan dan semakin banyak yang menjadi pengikutnya.

Perpolitikan Turki Utsmani saat itu sedang berada di masa paling kritis dimana pengaruh Eropa dan Barat semakin menjadi. Turki Utsmani pun terlibat PD 1, Nursi pun mengumandangkan jihad melawan sekutu, beliau pun memanggul senjata melawan musuh. Namun akhirnya Utsmani kalah dan banyak wilayah kekuasaan Utsmani direbut blok sekutu seperti Palestina, Suriah, dsk. Kekuasaan Utsmani makin melemah dan puncaknya, Turki dikudeta oleh militer di bawah Kemal. Kemal pun berkuasa. Rezim kemal begitu refresif dan kejam, bahkan Adzan pun dilarang menggunakan bahasa arab, kegiatan keagamaan dibatasi dsb.

Nursi tetap berdakwah di majlis-majlis ilmu dari masjid ke masjid. Mengajak agar ummat kembali kepada al Quran dan sunnah, agar mengamalkan isinya. Pengikut Nursi pun semakin banyak. Seiring banyaknya pengikut Nursi maka ada kekhawatiran dari pihak penguasa terhadap kegiatan-kegiatan Nursi. Hingga suatu waktu Nursi dijebloskan ke dalam penjara, dari penjara satu ke penjara lainnya karena dianggap sebagai ‘berbahaya’. Ya, memang begitulah penguasa yang sekular. Selalu takut terhadap Islam dan kemajuannya.

Nursi pun hampir 25 tahun lamanya berada di dalam penjara. Ia habiskan waktu itu dengan menulis dan mengajarkan Islam kepada murid-muridnya.

Di masa tuanya, Nursi banyak menghabiskan waktunya di masjid dan mengajar di majlis-majlis ilmu. Hingga akhir hayatnya. Allahummaghfirlahu warhamu wa’afiihi wa’fu ‘anhu.

 

 

 

Yakin gak sama Allah swt?

Suatu waktu di sore Ba’da magrib, pengajian rutin mingguan di masjid dekat kosan. Sang ustad menjelaskan banyak hal, mulai dari fenomena Gafatar, hingga fenomena pengajian di perkantoran. Nampaknya topiknya ngalor ngidul.

Ada suatu pernyataan beliau yang menusuk kesadaran saya ketika membahas syahadat. Ketika pernyataan persyaksian bahwa tidak ada illah lain kecuali Allah swt.

Saat kita ke Masjid, apakah karena orang tua, mertua atau karena Allah? jangan-jangan pengen dipuji sama orang lain? ketika saya berceramah, apakah saya ini pengen dipuji oleh para jamaah atau pengen ibadah/berdakwah karena Allah?

Saat kita terima gaji atau mendapat uang entah karena berdagang, bekerja dst, apakah kita meyakini bahwa hal ini semata-mata hasil usaha kita atau karena rizki dari Allah? yakin gak sama Allah, kalo Allah ini maha pemberi rizki?

Lalu beliau juga menyarankan agar lidah dan hati kita terus menerus berdzikir kepada Allah, entah itu membaca tasbih, tahlil, istighfar atau lainnya.

Apa itu Jodoh, Apa itu Rizki?

Ketika sedang ngopi, atau duduk bareng dengan teman apalagi teman sekampung kadang suka ngobrol ngalor ngidul. Mulai ekonomi, peluang usaha, politik, agama, bahkan tentang cinta, jodoh dan rizki.
Tak lupa juga ghibah diri sendiri, kok belum kawin-kawin. Kadang juga melihat teman-teman yang sudah punya istri, punya anak 1-2 orang, jadi iri.
Namun, ada juga teman yang sudah nikah 10 tahun lalu, belum juga dikarunia Putra. Bahkan ada yang sudah 15 tahun namun belum juga punya momongan. Berbagai usaha bail media Dan non media telah dilakukan, namun hasilnya nihil.
Ada juga yang masih single Dan menjomblo seperti sayah, Dan seperti orang lainnya. Kok blom pada menikah ya?
Apakah jodoh yang belum kunjung tiba, atau kita sedang diuji, atau sebaliknya sedang diberi peringatan oleh Yang Maha Pencipta, Allah swt.?
Atau memang Allah punya skenario lain?
Ada juga yang sudah nikah, namun beberapa tahun kemudian diuji dengan sakit, atau susahnya mencari penghidupan.
Yang pasti Allah sudah menuliskan jodoh, dan Rizki sejak Zaman azali.