Jatuh Hati

Wajahmu tidak cantik.

Kulitmu tidak putih mulus.

Fisikmu tidak tinggi semampai.

Namun, wajahmu memberikan keteduhan, ketentraman dan kedamaian jiwa.

Hati dan pemikiranmu membuatku sangat jatuh hati.

Saat kupandang, kau selalu menunduk. Aku pun malu jika terlalu lama menatapmu. Malu kepada diri, malu kepada Tuhan.

“Aku bukanlah Khadijah atau pun Fathimah, aku hanyalah wanita biasa yang hidup di akhir zaman yang berusaha untuk terus memperbaiki diri. Aku pun tidak mengharap laki-laki seperti Muhammad atau Ali, aku hanya mencari laki-laki yang akan menjadi imamku.”, begitu ia berujar.

==Move on 2014==

Advertisements

coretan di senja

hidupku makin ga karuan akhir-akhir ini. Banyak sekali yang mesti dilakukan dan diperbaiki. Mulai dari perilaku, tatacara bicara, intonasi, sampai pikiran dan hati ini mesti dicuci dengan ‘air’. Air yang datang dari kejernihan, dari sumber segala sumber air.

Pekerjaan, keluarga, ilmu pengetahuan, skill, dan segala tektek bengek penghidupan yang makin lama makin kelihatan dan makin jelas problemnya dimana namun tetap saja belum bisa menemukan solusinya. Semoga saja kedepan makin bijak, makin solutif, makin maju dan makin baik dan bukan sekadar benar saja.

Segi yang lain yang masih perlu di-upgrade adalah masalah ekonomi :D. ini penting karena menyangkut masalah penghidupan dan keberlangsungan hidup hehehe. Ekonomi yang sedang tidak bagus yang sudah diprediksi masih berjalan lambat bahkan minus sampai beberapa bulan ke depan dan paling cepat enam bulanan baru bisa begitu kata para pakar ekonomi. Namun saya sendiri masih pesimis akan segera selesai krisis ini. Tapi optimisme itu masih ada meski sedikit sebab masih ada jalan lain yang belum diambil agar keluar dari krisis ini.

Melihat situasi sekitar, terutama kelas menengah ke bawah yang sering ngobrol seusai jam kantor di warung kopi berbincang dengan office boy kantor atau supir bahkan kurir, banyak diantaranya yang mengeluh akan keadaan ini. Kantor sangat sangat menekankan efisiensi, tak ada lagi bonus, tak ada lagi jam kerja di atas jam lima, kryawan diharap pulang  “teng go” dan tidak menggunakan fasilitas kantor melebihi jam 7 malam, lampu-lampu dimatiin, AC dimatiin,  koneksi Internet dibatasi sampai jam 7 malam. Wah sungguh sangat berat, apalagi saya orang yang termasuk “manusia malam”. Susah, ini juga nyuri-nyuri waktu dan nyuri-nyuri fasilitas 😀

Mendengar teman-teman lain yang kurang beruntung, gaji UMR, overtime ga nyampe Rp 5000/jam dan itu juga ga pasti di-approve atau tidak, belum lagi klaim transport yang lamanya minta ampun sampai 4-6 bulan baru cair. Ini sangat mengenaskan. Namun mereka selalu mensyukuri, meski telat namun masih punya penghasilan. Walau anak-anaknya baru sekolah TK/playgroup namun beban hidup terasa berat. Belum lagi uang jajan buat anaknya mencapai 15ribu per hari membuat mereka mesti memeas otak dan melakukan efisiensi yang sangat ketat. Bahkan ada diantara mereka yang sudah dua hari cuma makan seadanya nasi putih dicampur mie rebus satu buah untuk istri dan dua anaknya. Belum lagi cicilan motor yang mesti dibayar awal bulan, padahal motornya baru digadai sebulan yang lalu dan baru beres karena sudah dibayar dari uang gajiannya tapi sudah ga cukup buat makan anak istri untuk sebulan ke depan. Oh, hidup begitu luar biasa :(. Mendengar keluh kesah mereka aku hanya bisa mengelus dada dan berdoa semoga mereka mampu keluar dari krisis.

Dari obrolan itu, aku jadi ingat keluargaku di kampung halaman yang hidupnya memang mengandalkan penghasilan dari alam. Kakakku, adikku, juga tetangga di samping kiri dan kanan rumah. Entah bagaimana nasib mereka. Aku segera menelpon adik dan kakakku di sana, dan ku tanya kabar juga ekonomi keluarga di sana. Ah, ternyata sama saja dengan office boy di kantorku. Padi beum juga siap dipanen, buah-buahan sudah berhenti berbuah karena musim panas sudah berlalu, kelapa juga baru bermunculan buah muda, pisang juga baru mulai tumbuh. Anak-anak juga kebingungan uang saku harian makin sulit bahkan kadang mesti harus tidak dapat jatah karena memang sudah ga ada. Ditambah lagi beras saja mesti beli dengan harga Rp 5500/kg karena memang persediaan sudah tidak ada tiga bulan lalu belum lagi nyari lauk pauknya. yang ada cuma sayur asem ditambah tempe goreng dan sambal.

Aku hanya bisa menghela nafas dan berkata dalam hati, apa yang bisa aku berikan untuk mereka? apa yang bisa aku lakukan untuk mereka?

Aku memutar otak dan mencari solusi atas permasalahan ini namun tetap tak dapat jawaban, bahkan otakku makin psuyeng memikirkan persoalan itu. Kuputuskan saja untuk pulang kampung minggu ini sekalian menghadiri acara nikahan teman kuliah. Sambil terus mencari cara agar mampu survive di tenga krisis.Berdoa agar mereka tetap tabah.